Friday , February 24 2017
Home / Cerita Sex Umum / Cerita Dewasa Hot Pembantuku yang Masih Lugu

Cerita Dewasa Hot Pembantuku yang Masih Lugu

VIMAX ASLI
Blog Sex Online Cerita Dewasa Hot Pembantuku yang Masih Lugu – Cerita hot terpanas, Sebelumnya kisah sex yang pernah saya publish Cerita Sex 2016 Suster Cantik Bahan Masturbasi. Cerita sex terbaru, novel sex terlengkap, cerita dewasa terupdate, cerita
mesum terbaik, cerita ngentot terpopuler, cerita bokep terpopuler,
cerita xxx, cerita ml, cerita porno
| Aku selalu membayangkan betapa nikmatnya hidup ini kalau aku bisa
bebas melakukan keinginanku tanpa ada yang melarang, dan satu hal yang
selalu kuinginkan adalah aku bisa sehari-hari hidup tanpa memakai
busana, alias telanjang bulat. Dan hal ini baru dapat kulaksanakan
setelah aku akhirnya memiliki rumah kontrakan sendiri.

Sejak saat itu
aku selalu membiasakan diriku hidup tanpa memakai busana, dan aku hanya
menutupi tubuhku dengan sarung manakala aku berada di sekitar ruangan
tamu, yang memang dapat terlihat dari arah luar melalui jendela kaca
yang terhalang dengan vitrage. Namun ternyata setelah 2-3 bulan aku
menjalani hidup seperti ini serasa ada yang kurang, karena segala
sesuatu harus kulakukan sendiri, mulai dari mencuci baju, menyetrika,
memasak air, sedangkan untuk kebutuhan makan kulakukan dengan makan di
warung. Aku mulai berpikir untuk mencari pembantu yang dapat membantuku
untuk melakukan kegiatan sehari-hari untuk kebutuhan hidupku.

Cerita Sex Pengalaman Nyata Terbaru 2016

cerita sex pembantu, cerita dewasa pembantu, cerita lucah pembantu, cerita bokep pembantu, cerita pembantu mesum, cerita pembantu binal, cerita pembantu horny
Cerita Dewasa Pembantuku yang Masih Lugu

Kemudian
aku memutuskan mulai mencari pembantu yang sesuai dengan kebutuhanku.
Sebelum aku melanjutkan ceritaku, aku ingin berbagi dengan para pembaca,
aku adalah seorang lelaki berumur 38 tahun yang mempunyai libido yang
besar, namun aku tidak suka menyalurkannya di tempat-tempat yang sering
dikunjungi para hidung belang, selain takut membayangkan hal-hal yang
negatif yang harus kualami, aku juga kurang menyukai perempuan yang
hanya menjajakan seks karena profesi dan juga karena uang. Dan satu hal
yang aneh dalam diriku adalah aku senang dengan perempuan yang masih
remaja, walaupun aku tidak menolak bila berhubungan dengan wanita yang
sudah matang, karena memang dalam permainan seks, mereka jauh lebih
menghanyutkan dan mengasyikkan, namun bagiku selalu menimbulkan sensasi
seks yang luar biasa apabila aku membayangkan diriku sedang mencumbu
seorang gadis yang masih remaja, terlebih lagi gadis yang baru tumbuh.

Pada
awalnya aku mulai mencari-cari gadis yang mau menjadi pembantu di
panti-panti asuhan, namun karena prosesnya berbelit-belit, akhirnya aku
memutuskan mencarinya sendiri di desa-desa, karena aku tahu jauh lebih
mudah mencarinya di desa daripada keluar masuk dari satu panti asuhan ke
panti asuhan yang lain.

Suatu hari, singkat cerita aku mulai
menjelajah di salah satu desa di daerah Wonogiri. Aku memang sengaja
berburu ke daerah itu karena terkenal akan Mbok bakul jamunya, dan aku
membayangkan pasti gadis-gadis di desa itu pun terbiasa untuk
mengkonsumsi jamu. Tentu aroma tubuh dan bentuk tubuh mereka akan
berbeda, dan yang pasti akan menimbulkan gairah seksku.

Sesampainya
di desa itu, aku mulai mencari rumah Bapak Kepala Desa, yang
disambutnya dengan cara yang simpatik, setelah aku menjelaskan maksud
dan tujuanku. Karena aku tidak mau tanggung-tanggung, kujelaskan secara
rinci apa yang kuharapkan dengan gadis pembantu yang kuinginkan. Dan
kutambahkan agar calon gadis pembantuku itu juga yang suka membuat jamu
serta rajin mengkonsumsinya. Tidak lupa aku juga memperkenalkan diriku
kepada Bapak Kepala Desa.

“Silakan Mas Budi tunggu sebentar, nanti bapak akan panggilkan Carik Desa untuk membantu mencarinya..”

“Terima kasih Pak untuk bantuannya, tolong saja kalau bisa jangan satu orang, 4 atau 5 orang supaya saya bisa memilihnya.”

“Tanggung
beres Mas..” sahutnya tak kurang simpatiknya, dan langsung saja dia
memberikan perintah kepada anak buahnya melakukannya sesuai dengan
permintaanku, “Gole’ke se’ng ayu sisan, ojo ngisin-ngisini..! (carikan
sekalian yang cantik, jangan malu-maluin..!)” tambahnya.

Dalam
hati aku berpikir, baik juga bapak kepala desa ini, yang kemudian
kutahu namanya Pak Mahmud. Dan aku bertekad untuk membalas budinya bila
aku memang benar-benar menemukan gadis pembantu yang cocok dengan
seleraku.

Selang beberapa lama, Carik Desa itu membawa 6 orang
gadis yang kutaksir berumur antara 12 sampai 15 tahun. Kupandangi satu
persatu, sambil kutanyakan namanya. Sampai akhirnya pada gadis yang
terakhir, aku merasa cocok dengannya, wajahnya ayu namun sifatnya
pemalu, tingginya sepundakku, tubuhnya padat berisi, kulitnya kuning
langsat, lehernya sedikit jenjang, denganrambut yang terurai sebahu, dan
kulihat dari samping payudaranya masih baru tumbuh, namun agak mencuat
ke atas sedikit. Dia tertunduk malu saat dia menyebutkan namanya,
“Sumiati..” gumamnya.

“Pak Mahmud, bagaimana kalau saya memilih Sum saja, dia cocok dengan selera saya.”

“Wah,
Mas rupanya punya selera dan mata yang tajam, Bapak sudah berpikir
pasti Mas akan memilihnya, karena dia memang kembang desa sini.”

“Ah Bapak bisa saja, saya hanya melihat Sum anaknya bersih, dan sepertinya rajin bekerja.”

“Monggo
Mas, biar nanti Bapak yang akan menjelaskan kepada orang tuanya, dan
Bapak kenal sekali dengan Bapak dan Ibunya Sum, kapan Mas Budi akan
kembali ke kota..?”

“Kalau memang bisa selesai sekarang saya
tidak akan berlama-lama di sini, karena masih banyak pekerjaan yang
harus saya selesaikan di kota.”

“Baik kalau begitu, ayo Sum,
kamu bersiap-siap untuk ikut dengan Bapak ini ke kota, kamu kan sudah
bertekad untuk bekerja di kota, silakan pamit kepada orangtuamu,
selanjutnya biar Bapak yang akan membantumu.”

“Oh ya Pak,
tolong titip sekalian untuk orangtua Sum..!” dan aku mengeluarkan 2 buah
amplop yang memang sudah kusiapkan sejak aku berangkat dari rumah,
“Yang satu untuk orangtua Sum, dan yang satu lagi untuk Bapak, sebagai
ucapan terima kasih saya kepada Bapak yang sudah membantu saya.”

Pak
Mahmud dengan gembira menerima pemberianku, sambil terbungkuk-bungkuk
beliau menerimanya sambil tidak lupa berulang-ulang mengucapkan terima
kasih, karena dia tahu bahwa jumlah yang diterimanya bukanlah uang yang
sedikit saat dia meraba tebalnya amplop yang kuberikan.

Dalam
perjalanan ke kotaku, Sum hanya tertunduk malu, dia hanya mendekap tas
bawaannya yang tidak seberapa, mungkin hanya berisi beberapa potong
baju, karena aku sendiri sudah mengatakan kepadanya bahwa untuk
kebutuhan pakaian yang akan dikenakannya akan kubelikan setibanya di
kota nanti. Sepanjang perjalanan kucoba untuk mulai akrab dengan
dirinya, sambil tidak lupa kupasang musik instrumental yang bernuansa
lembut. Perlahan-lahan kebekuan itu mulai mencair, dan Sum mulai
menceritakan dirinya yang baru 1 tahun ini lulus SD, sekarang dia baru
berumur 14 tahun.

“Hmm.. cocok dengan seleraku, gadis yang
masih ranum, baru tumbuh, aku membayangkan mungkin buah dadanya baru
tumbuh, dan pasti puting susunya pun masih sebesar pentil, ah bagaimana
dengan kemaluannya.., apakah sudah ditumbuhi rambut..?” bayangan itu
membawa imajinasiku semakin melambung tinggi.

Tidak terasa penisku mulai berdenyut dan bereaksi mengikuti irama lamunanku.

“Hati-hati Pak..! Kok nyetirnya sambil melamun..” katanya menyadarkanku dari lamunanku.

“Uups..,” aku menghindar dan kurem secara mendadak saat kulihat kerbau yang melintas di tengah jalan yang kulalui.

“Uh..,
untung ada Sum, coba kalau tidak.. wah.. bisa konyol kita ya..? Sum
kamu nggak usah panggil Pak kepada saya, panggil saja Mas Budi..”

“Iya
Pak.., eh Mas..” awalnya Sum masih canggung untuk memanggil Mas
kepadaku, namun lama-kelamaan dia mulai terbiasa, walaupun sifat
pemalunya masih saja kental dalam dirinya, tetapi itu justru yang
menimbulkan gairahku semakin meninggi.

“Sabar.. sabar..”
kataku pada diriku sendiri, aku harus memulainya dengan perlahan-lahan,
jangan sampai seluruh rencanaku hancur karena terlalu terburu-buru, dan
aku sudah bertekad untuk menikmati hidup ini secara perlahan-lahan.

Sesampainya
di rumah kontrakanku, aku menunjukkan kamar Sum di bagian tengah,
karena rumah kontrakan-ku memang hanya terdiri dari 3 kamar. Yang di
depan kupakai sebagai ruang kerjaku, yang satu lagi kupakai untuk ruang
tidurku. Ruang tidurku dan ruang tidur Sum dipisahkan dengan kamar
mandi.

Pada saat aku mengontrak rumah ini, aku sudah merombak
bagian ruang tidurku, kutempatkan lemari gantung yang bila kubuka
pintunya, aku dapat melihat ke kamar mandi dengan bebas, karena aku
menempatkan one way mirror berukuran 1 x 1.2 meter di dalamnya.

“Nanti
saja kamu mandinya Sum, tunggu saya, saya akan keluar sebentar, kamu
beres-beres rumah saja, tolong sapu dan bersihkan rumah sepeninggal
saya, kamu lihat sendiri banyak debu yang harus dibersihkan.” pesan saya
padanya.

“Baik Mas..” katanya lembut.

Dan Sum tanpa canggung sudah melakukan tugas yang kuberikan dengan mengambil sapu di belakang.

Kupacu
mobilku menuju Departemen store di kotaku, lalu aku mulai sibuk memilih
beberapa t-shirt Nevada yang ketat dengan bahan yang agak tipis,
beberapa celana dalam yang bentuknya seksi, 2 potong handuk berukuran
sedang, serta rok pendek yang kuperkirakan hanya sebatas paha bila
dikenakan oleh Sum. Dalam perjalan pulang, aku sudah membayangkan betapa
nikmatnya memandangi tubuh Sum yang dibalut dengan t-shirt tanpa BH,
serta rok pendek yang dikenakan, hmm.., tidaklupa aku membelikan sabun
mandi Pquito untuknya, agar tubuhnya harum. Sengaja aku tidak membelikan
BH satupun untuk dirinya, karena memang aku bermaksud agar Sum tidak
memakainya sepanjang hari.

Setibanya aku di rumah, kulihat Sum sedang membersihkan kaca jendela depan rumah.

“Wah.., kamu rajin sekali Sum, terima kasih, tidak salah aku memilihmu.” sapaku padanya.

“Ah
Mas bisa saja, ini biasa saya lakukan kalau saya ada di rumah.” katanya
sambil terus melakukan pekerjaannya tanpa memperhatikanku.

Aku
masuk ke kamar Sum, dan mulai aku membongkar tasnya. Seperti dugaanku,
Sum hanya membawa 2 potong rok terusan dan 1 buah kutang kecil serta 2
buah celana dalam yang terbuat dari bahan murahan. Kuambil seluruhnya
dan kubungkus dengan tas plastik, lalu kusembunyikan di lemari ruang
tidurku.

“Sum.. kalau kamu sudah selesai membersihkan kaca jendela, mandi
dulu, kemudian siapkan makanan yang kubeli tadi.” kataku setelah
menyusun rencanaku.

“Iya Mas..” sahutnya sambil tetap membersihkan kaca jendela yang tinggal sedikit lagi.

Sesaat
kemudian Sum masuk ke kamarnya, dan tampaknya dia bingung mendapatkan
tasnya kosong, lalu memanggil diriku sambil membawa t-shirt, rok pendek,
celana dalam yang seksi dan handuk.

“Mas.. Baju Sum kemana..?” tanyanya.

“Oh..
bajumu itu tidak baik untuk dipakai di kota, Mas akan malu kalau nanti
ada teman-teman Mas kesini.., jadi Sum pakai saja baju yang sudah Mas
belikan untukmu ya..?”

“Tapi..?” nampaknya Sum ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya.

“Tapi apa Sum..?”

“Kutangnya mana..?”

“Wah
Sum.. kamu kan masih kecil.., tidak perlu kamu menggunakan kutang itu,
kutang itu pun sudah jelek sekali, dan itu akan menghalangi pertumbuhan
buah dadamu.., sudahlah kamu pakai saja kaos yang kubelikan tadi.”
kataku mencoba menjelaskan.

“Tapi Sum malu Mas.., nanti akan kelihatan..” jawabnya malu.

“Iya
tidak Sum, justru akan kelihatan indah sekali kalau tubuhmu hanya
dibalut dengan kaos yang kubelikan, percayalah..! Coba saja ya..? Dan
kamu ganti baju yang sekarang kamu pakai, mungkin sudah bau keringat.”

Akhirnya walau dengan berat hati, Sum masuk ke kamar mandi dengan membawa t-shirt serta rok pendeknya.

Tidak
lupa aku menjelaskan kepada Sum bagaimana caranya menggunakan shower
dan bermandi dengan air hangat, karena memang kamar mandiku tidak
memakai bak mandi. Setelah dia mengerti, aku tinggalkan dirinya.

Begitu
Sum masuk kamar mandi, bergegas aku pun masuk kamar tidurku untuk
siap-siap melihat pemandangan yang menggairahkan. Kubuka bajuku sehingga
aku telanjang bulat, dan aku mulai membuka lemari gantungku. Dan
pemandangan di depan mataku membuatku terpana, jantungku berdebar-debar
saat Sum mulai membuka rok terusannya, sehingga dia hanya memakai kutang
kecil dan celana dalam murahan. Libidoku mulai menaik, aku terangsang
dengan pemandangan di hadapanku. Sesaat kemudian Sum membungkuk untuk
membuka celana dalamnya, dan aku melengguh ketika Sum akhirnya membuka
kutang kecilnya, dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benangpun.

Kulihat
tubuh Sum begitu padat berisi, tubuh seorang gadis yang baru tumbuh,
buah dadanya masih belum menonjol betul, hanya segenggam telapak tangan
saja. Seperti bayanganku, puting susunya masih belum begitu besar,
berwarna merah muda kontras dengan warna kulit tubuhnya yang kuning
langsat, namun itu justru sangat menggairahkan diriku. Perutnya rata,
namun saat kulihat di bagian bawah perutnya, ugh.., nampak bagian itu
agak menonjol keluar, agak gemuk sedikit. Dan yang membuatku semakin
berdebar dan bernafsu, kemaluan Sum belum lagi ditumbuhi oleh bulu,
masih mulus, hanya ada beberapa lembar bulu, itu pun masih bulu yang
halus.

Pemandangan di depan mataku membuatku semakin melambung
tinggi dalam nafsuku, tanganku mulaimemainkan penisku yang sudah
berdenyut-denyut dan bereaksi sejak tadi
. Secara perlahan aku mulai
mengocok penisku dengan tangan kananku, sementara tangan kiriku mulai
membelai-belai sekujur tubuhku mulai dari perut dan berakhir di puting
susuku. Aku semakin menggelinjang saat jari jemariku memainkan puting
susuku, sensasi yang luar biasa mulai menerpaku. Tidak puas dengan
keadaan itu, aku mengambil penis karet dari lemari bajuku yang berukuran
tidak terlalu besar yang kubeli saat aku pergi ke luar negeri. Sengaja
aku memilih yang berukuran tidak terlalu besar yang berdiameter hanya 2
cm, kulumuri dengan baby oil, dan kuletakkan di tempat dudukku. Penis
karet yang kubeli itu dapat diletakkan dengan kondisi berdiri mengacung
ke atas, karena bagian bawahnya dilengkapi dengan semacam piringan.

Aku
mulai menempatkan diriku dengan anusku tepat di atas penis karet itu,
sementara tangan kananku masih terus memempermainkan penisku dan tangan
kiriku tetap mempermainkan puting susuku, kiri dan kanan. Aku mulai
mendesah saat penis karet di tempat dudukku mulai menyentuh anusku,
terasa bergetar menimbulkan perasaan yang sulit kuceritakan. “Sshh..
ahh..”

Sementara di kamar mandi, Sum mulai dengan menyalakan
shower, dan air yang mengalir mulai membasahi rambutnya. Lalu
perlahan-lahan tangannya mulai membersihkan dirinya dengan sabun mandi,
dan aku semakin larut dalam nafsuku saat tangannya mulai membersihkan
ketiaknya yang belum lagi ditumbuhi bulu. Aku semakin menggelinjang
dipenuhi oleh rasa nikmat di sekujur tubuhku. Sum mulai menggosok-gosok
buah dadanya dengan cairan sabun di tangannya. Matanyaterpejam saat
tangannya mulai meremas-remas buah dadanya sendiri. Entah karena rasa
nikmat yang dirasakannya atau memang hanya kebiasaannya. Yang jelas
pemandangan itu membuatku semakin menggila dalam nafsuku. Sum masih
asyik menggosok-gosok buah dadanya tanpa menyadari bahwa aku sedang
menikmati tubuhnya yang ranum dan menggairahkan itu dari sebelah kamar.

Nafsuku
semakin memuncak
saat kulihat Sum mengambil shower dan mulai
membersihkan kemaluannya. Dengan tangan kanannya, diarahkan air yang
memancur dari shower itu tepat ke arah kemaluannya. Tangan kirinya mulai
menggosok-gosok kemaluannya dengan cairan sabun. Nampak Sum sepertinya
menikmati apa yang sedang dilakukannya. Bibirnya yang seperti gendewa
itu mulai terbuka, dan yang lebih membuatku berdebar adalah saat Sum
mulai menggosok-gosokan shower itu langsung ke bibir kemaluannya,
rupanya semburan air dari shower itu menimbulkan sensasi seks dalam
dirinya yang selama ini belum pernah dia rasakan, terlebih lagi saat
shower itu menyentuh kelentitnya yang masih sebesar kacang.

Sum
terjengkit kenikmatan.., Sum mulai menyandarkan tubuhnya di dinding
berhadapan dengan One way mirror di kamarku, sehingga semakin jelas aku
dapat melihat pemandangan yang menggairahkan itu. Tubuhnya melengkung ke
belakang, dan tangan kirinya mulai meraba-raba buah dadanya sambil
sekali-sekali meremasnya. Aku tidak dapat membayangkan bahwasanya Sum
gadis yang lugu yang baru saja datang dari desa dapat melakukan hal itu.
Mungkin sensasi itu baru ditemukannya saat dia mulai menikmati guyuran
air hangat dari shower yang selama ini belum pernah dia alami.

Kocokan
tangan kanan di penisku mulai kulakukan semakin cepat, dan tidak
henti-hentinya aku memilin puting susuku kiri dan kanan. Aku semakin
bergairah saat penis karet di tempat dudukku mulai memasuki lorong
kenikmatan di anusku. Otot di sekitar anusku mulai bereaksi mengejut dan
mengembang. Dan saat aku menurunkan tubuhku, penis karet itu masuk
semakin dalam, gairahku memuncak. Dan ketika seluruh penis karet
sepanjang 12 cm itu menghunjam bagian belakang tubuhku, aku melengking,
“Aaahh..!” baru kali ini aku merasakan hal itu, karena biasanya memang
hanya sebatas ujungnya saja yang kumasukkan ke dalam anusku, hanya untuk
menambah rasa nikmat saat aku beronani. Kugoyangkan pantatku sedimikian
rupa sehingga aku dapat merasakan penis karet itu berputar di dalamnya,
sungguh menimbulkan rasa nikmat yang tiada taranya, dan tanganku tetap
bermain dengan penis dan puting susuku.

Kulihat Sum mulai
mempermainkan puting buah dadanya yang mengeras dengan jarinya sambil
sesekali meremas buah dadanya. Sementara dengan tangan kanannya, shower
itu tetap digesek-gesekkan ke kelentitnya. Tiba-tiba tubuh Sum
melengkung ke depan, dan kulihat kedua pahanya menjepit shower dan
tubuhnya bergetar. Ah.., dia orgasme. Bayangkan.., gadis lugu dari desa
berumur 14 tahun melakukan masturbasi sampai orgasme di kamar mandiku,
sementara di sebelah kamar, aku menikmatinya sambil beronani juga.
Kupercepat dan kupercepat kocokan tanganku di penisku, sampai akhirnya
aku merasakan ada sesuatu yang akan meletup dan meledak dari dalam
tubuhku. Dan akhirnya, “Cret.. cret.. cret..” 7 kali semburan kurasakan
air maniku tertumpah dari saluran penisku menyembur membasahi tempat
dudukku dan pahaku, yang menimbulkankenikmatan yang tiada taranya,
disertai dengan otot anusku yang mengejut memilin penis karet yang ada
di dalamnya. Aku terduduk lemas sambil tetap melihat Sum yang mulai
mengeringkan tubuhnya dengan handuk.

Agh.. aku membayangkan
betapa nikmatnya kalau aku dapat menggumuli tubuh Sum yang masih ranum
itu, namun aku masih mempunyai rencana lain, aku akan meletakkan penis
karetku di kamar mandi suatu saat nanti. Dan aku mengharapkan dapat
menikmati pemandangan yang lebih menggairahkan lagi saat aku
membayangkan Sum akan bermain-main dengan penis karet itu.

Bacaan sex top: Cerita Horny 2016 Terhot Mandi Paling Nikmat

Cepat-cepat
kubereskan tempat dudukku, aku terjengkit dengan rasa nikmat saat
kutarik penis karet dari anusku. Kubersihkan air maniku dengan tissue,
dan saat aku keluar dari kamarku, kuterpana dan gairahku muncul kembali
ketika melihat Sum dengan rambut yang tergerai tersisir rapi memakai
t-shirt dan rok pendek yang kubelikan. Tubuhnya yang padat berisi,
dengan buah dadanya yang baru tumbuh, tercetak dengan jelas pada t-shirt
yang ketat, nampak puting susunya masih mengeras, menimbulkan
pemandangan yang menggairahkan bagi diriku.

“Gimana mandinya Sum.., enak..? Sudah segar kan..? Ayo atur makan, kita makan, aku sudah lapar..!”

“Iya Mas.., segar, terima kasih..”

“Wow.., kamu cantik sekali dengan baju barumu Sum, pasti banyak laki-laki yang menginginkanmu..”

“Aah Mas bisa saja..” katanya tersipa dan Sum tertunduk malu.

Saat
kutulis cerita ini, aku masih dengan keadaan telanjang bulat sambil
mempermainkan penisku, sementara Sum sedang mempersiapkan makan siang
untukku, tentunya dengan tubuhnya yang terbalut t-shirt yang ketat dan
rok yang pendek sebatas paha. Sesekali kutengok dia, dari one-way mirror
di kamar kerjaku, dan pemandangan yang paling kusuka adalah saat dia
harus membungkuk, aku bisa melihat celana dalam yang seksi, berbentuk
segitiga kecil membelah buah pantatnya, menerus ke depan ke arah bibir
kemaluannya.

Ada komentar dan idea..? Supaya aku bisa melanjutkan apa yang harus kulakukan dengan Sum, supaya hidupku lebih bergairah lagi. – Situs dewasa sex online terlengkap, novel sex terupdate, novel sex
dewasa, novel
xxx terbaru, novel cerita hot, novel cerita bokep, novel cerita porno,
novel mesum, novel abg ml, novel tante selingkuh, novel janda hypersex,
novel sex terpanas, novel perawan suka bugil
.

Tamat

Jika berkenan silahkan klik suka tombol facebook ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *