Wednesday , January 18 2017

Cerita Mesum Sedarah Terhot Kakek Bejad

Blog Sex Online 2016 Cerita Mesum Sedarah Terhot Kakek Bejad – Cerita hot terpanas, Sebelumnya kisah sex yang pernah saya publish adalah Cerita Dewasa Perempuan yang Haus Seks. Cerita sex terbaru, novel sex terlengkap, cerita dewasa terupdate, cerita
mesum terbaik, cerita ngentot terpopuler, cerita bokep terpopuler,
cerita xxx, cerita ml, cerita porno
| Namaku Budyanto, saat ini usiaku 63 tahun. Boleh dibilang untuk urusan
main perempuan aku pakarnya. Ini bisa kukatakan karena pada saat usiaku
13 tahun aku sampai menghamili 3 temanku sekaligus.

cerita sex sedarah, kisah sedarah, cerita sex cucuku, cerita sex dea dan marsha, cerita dewasa sedarah, cerita sedarah terbaru, cerita sex sedarah 2016
Cerita Mesum Sedarah Terhot Kakek Bejad

Dan di usiaku ke 17
sampai dengan 5 orang teman yang aku hamili, satu di antaranya Winnie,
seorang gadis peranakan Belanda dan Cina yang pada akhirnya aku terpaksa
mengawininya karena hanya dia yang ambil risiko untuk melahirkan bayi
atas kenakalanku dibanding gadis lain. Winnie sampai memberiku 3 orang
anak, tetapi selama aku mendampinginya dalam hidupku, aku masih juga
bermain dengan perempuan sampai usiaku 50 tahun, inipun disebabkan
karena Winnie harus tinggal di Belanda karena sakit yang dideritanya
hingga akhir hayatnya yaitu 7 tahun yang lalu, otomatis aku harus
mendampinginya di Belanda sementara ketiga anakku tetap di Indonesia.

Kira-kira
satu tahun yang lalu petualanganku dengan perempuan terjadi lagi, tapi
kali ini orangnya adalah yang ada hubungan darah denganku sendiri yaitu
Dhea dan Marsha, keduanya merupakan cucuku sendiri. Satu tahun yang
lalu, anakku yang kedua mengontakku di Belanda yang memberitahukan bahwa
kakaknya yaitu anakku yang pertama dan istrinya mengalami
kecelakaanyang akhirnya harus meninggalkan dunia ini. Aku pun langsung
terbang ke Jakarta.

Setiba di Jakarta aku lansung menuju ke rumah
anakku, di sana aku menemukan anakku dan istrinya telah terbujur kaku
dan kulihat Dhea dan adiknya Marsha sedang menagis meraung-raung di
depan keduajenazah itu. Sewaktu kutinggal ke Belanda, Dhea dan Marsha
masih kecil. Setelah peguburan jenazah kedua anakku, atas anjuran anakku
yang kedua, aku diminta untuk tinggal di Jakarta saja dan tidak usah
kembali ke Belanda, aku harus menjaga kedua cucuku, aku pun setuju.
Sejak saat itu, aku pun tinggal di Indonesia.

Satu minggu aku
sudah tinggal di rumah almarhum anakku, dan kutahu Dhea usianya 15 tahun
(kelas 3 SMP) sedangkan adiknya Marsha usianya 13 tahun (kelas 1 SMP)
ini kutahu karena tugasku sekarang menjaga dan mengantarkan cucuku
sekolah. Dhea sudah tumbuh menjadi anak gadis tetapi kelakuannya agak
nakal, setiap pulang dari sekolah bukannya belajar malah main ke
temannya sampai jam 09.00 malam baru kembali, di saat aku sudah
tertidur.

Suatu hari ketika Dhea pulang aku masih terbangun, Dhea
langsung masuk kamar setelah mandi dan berdiam di dalam kamarnya yang
membuat aku penasaran melihat sikap Dhea, sampai di depan kamarnya
sebelum kuketuk aku coba mengintip dari lubang pintu dan aku
terkaget-kaget melihat apa yang dilakukan Dhea di kamarnya.

TV di kamar
itu menyala dimana gambarnya film porno, sedangkan Dea sedang mengangkat
roknya dan jarinya ditusukkan ke dalam lubang kemaluannya sendiri. Aku
mengintipnya hampir 15 menit lamanya yang membuat aku tidak sadar bahwa
batangkemaluanku mulai mengeras dan celanaku basah. Setelah itu
kutinggalkan Dhea yang masih onani, sedang aku pun ke kamar untuk tidur,
tapi dalam tidurku terbayang kemaluan Dhea.

Paginya aku bangun
terlambat karena mimpiku. Dhea dan Marsha sudah berangkat sekolah naik
angkutan kota. Sore hari aku kembali setelah mengurus surat-surat
kuburan anakku. Ketika aku masuk ke ruang keluarga, aku sempat terkejut
melihat Dhea sedang menonton TV, pikirku tumben sore-sore Dhea ada di
rumah dan aku makin terkejut ketika aku menghampiri Dhea, Dhea sedang
melakukan onani sementara TV yang ia tonton adalah film porno yang tadi
malam sudah dilihatnya. Dhea pun tidak tahu kalau aku sedang
memperhatikannya dimana Dhea sedang asyik-asyiknya onani.

“Dhea… kamu lagi… ngapain?”
“Uh… kakek.. ngagetin aja… nih…”
Dhea yang kaget langsung menutupinya dengan rok dan memindahkan channel TV.
“Kamu kaget.. yach, kamu.. belajar begini sama siapa.. kamu ini bandel yach..”
“Belajar dari film dan bukunya temen, tapi Dhea.. nggak bandel loh… Kek…”
“Sini
Kakek.. juga mau nonton,” kataku sambil duduk di sebelahnya.”Kakek mau
nonton juga.. Kakek nggak marah sama Dea khan?” katanya agak manja
sambil melendot di bahuku.
“Nggak… ayo pindahin channel-nya!”

Gambar
TV pun langsung berubah menjadi film porno lagi. Tanpa bergeming, Dhea
asyik menatap film panas itu sementara nafasku sudah berubah menjadi
nafsu buas dan batang kemaluanku mulai mengeras berusaha keluar dari
balik celanaku. “Dhe… mau Kakek pangku.. nggak?” Tanpa menoleh ke
arahku Dhea bergeser untuk dipangku. Dhea yang sudah meloloskan celana
dalamnya merasa terganggu ketika kemaluannya yang beralaskan roknya
tersentuh batang kemaluanku yang masih tertutup celana.
“Ah.. Kakek.. ada yang mengganjal lubang kemaluan Dhea nih dari bawah.”
“Supaya nggak ganjal, rok kamu lepasin aja, soalnya rok kamu yang bikin ganjal.”

Tiba-tiba
Dhea menungging dipangkuan melepaskan roknya, badannya menutupi
pemandanganku ke arah TV tapi yang kulihat kini terpampang di depan
mukaku pantat Dhea yang terbungkus kulit putih bersih dan di bawahnya
tersembul bulu-bulu tipis yang masih halus menutupi liang kemaluannya
yang mengeluarkan aroma bau harum melati.

“Dhea.. biar aja posisi kamu begini yach!”
“Ah.. Kakek, badan Dhea khan nutupin Kakek… nanti Kakek nggak lihat filmnya.”
“Ah.. nggak apa-apa, Kakek lebih suka melihat ini.”
Pantatnya
yang montok sudah kukenyot dan kugigit dengan mulut dan gigiku.
Tanganku yang kiri memegangi tubuhnya supaya tetap berdiri sedangkan
jari tengah tangan kananku kuusap lembut pada liang kemaluannya yang
membuat Dhea menegangkan tubuhnya.

“Ah… Ah… ssh.. sshh…”
Pelan-pelam jari tengahku kutusukkan lebih ke dalam lagi di lubamg
kemaluannya yang masih sangat rapat. “Aw.. aw… aw.. sakit.. Kek…”
jerit kecil Dhea. Setelah lima menit jariku bermain di kemaluannya dan
sudah agak basah, sementara lubang kemaluannya sudah berubah dari putih
menjadi agak merah. Kumulai memainkan lidah ke lubang kemaluannya. Saat
lubang kemaluan itu tersentuh lidahku, aku agak kaget karena lubang
kemaluan itu selain mengeluarkan aroma melati rasanya pun agak
manis-manis legit, lain dari lubang kemaluan perempuan lain yang pernah
kujilat, sehingga aku berlama-lama karena aku menikmatinya.

“Argh… argh… lidah Kakek enak deh.. rasanya.. agh menyentuh memek Dhea… Dhea jadi suka banget nih.”
“Iya… Dhea, Kakek juga suka sekali rasanya, memekmu manis banget rasanya.”

Dengan
rakusnya kujilati lubang kemaluan Dhea yang manis, terlebih-lebih
ketika biji klitorisnya tersentuh lidahku karena rupanya biang manisnya
dari biji klitorisnya. Dhea pun jadi belingsatan dan makin menceracau
tidak karuan. “Argh.. sshh.. agh… aghh… tidddaak… Kek… uenak…
buanget… Kek.. argh… agh.. sshhh…” Hampir 30 menit lamanya biji
klitoris Dhea jadi bulan-bulanan lidahku dan limbunglah badan Dhea yang
disertai cairan putih kental dan bersih seperti lendir, mengucur deras
dari dalam lubang kemaluannya yang langsung membasahi lubang kemaluannya
dan lidahku. Tapi karena lendir itu lebih manis lagi rasanya dari biji
klitorisnya langsung kutelan habis tanpa tersisa dan membasahi mukaku.

 “Arggghh.. aaawww… sshhh.. tolong… Kek… eennaak… baangeeet…
deh…” Jatuhlah tubuh Dhea setelah menungging selama 30 menit meniban
tubuhku.

Setelah tubuhku tertiban kuangkat Dhea dan kududukkan di
Sofa, sementara badannya doyong ke kiri, aku melepaskan semua pakaianku
hingga bugil dimana batang kemaluanku sudah tegang dan mengeras dari
tadi.

Kemudian kedua kaki Dhea aku lebarkan sehingga lubang kemaluan
itu kembali terbuka lebar dengan sedikit membungkuk kutempelkan batang
kemaluanku persis di liang kemaluannya. Karena lubang kemaluannya masih
sempit, kumasukkan tiga buah jari ke lubang kemaluannya, supaya lubang
kemaluan itu jadi lebar
. Ketika jari itu kuputar-putar, Dhea yang
memejamkan mata hanya bisa menahan rasa sakit, sesekali ia meringis.
Setelah 5 menit lubang kemaluannya kuobok-obok dan terlihat agak lebar,
kutempelkan batang kemaluanku tepat di lubang kemaluannya, lalu
kuberikan hentakan.

Tapi karena masih agak sempit maka hanya kepala
kemaluanku saja yang bisa masuk. Dhea pun menjerit.
“Awh… sakit.. Kek… sakit.. banget…”
“Sabar… sayang… nanti juga enak.. deh…”

Kuhentak
lagi batang kemaluanku itu supaya masuk ke lubang kemaluan Dhea, dan
baru yang ke-15 kalinya batangan kemaluanku bisa masuk walau hanya
setengah ke lubang kemaluan Dhea. Dhea pun 15 kali menjeritnya.
“Ampun… Kek… sakit.. banget… ampun!” Karena sudah setengah batang
kemaluanku masuk, dan mulai aku gerakan keluar-masuk dengan perlahan,
rasa sakit yang dirasakan Dhea berubah menjadi kenikmatan.
“Kek..
Kek.. gh… gh… enak.. Kek… terus.. Kek.. terus.. Kek… batang..
Kakek.. rasanya… sampai.. perut Dhea.. terus… Kek!”

“Tuh.. khan… benar.. kata Kakek… nggak.. sakit lagi sekarang.. jadi enak.. kan?”
Dhea
hanya mengangguk, kaus yang digunakannya kulepaskan berikut BH merah
mudanya, terlihatlah dengan jelas payudara Dhea yang baru tumbuh tapi
sudah agak membesar dimana diselimuti kulit putih yang mulus dan di
tengahnya dihiasi puting coklat yang juga baru tumbuh membuatku menahan
ludah. Lalu dengan rakusnya mulutku langsung mencaplok payudara itu dan
kukulum serta kugigit yang membuat Dhea makin belingsatan.

Setelah
satu jam, lubang kemaluan Dhea kuhujam dengan batang kemaluanku secara
ganas, terbongkarlah pertahanan Dhea yang sangat banyak mengeluarkan
cairan lendir dari dalam lubang kemaluannya membasahi batanganku yang
masih terbenam di dalam lubang kemaluannya disertai darah segar yang
otomatis keperawanan cucuku Dhea telah kurusak sendiri. Dhea pun
menggeleparlalu ambruk di atas Sofa. “Agh… agh.. agh.. argh… argh…
sshh… ssshh… argh… gh.. gh… Dhea… keluar.. nih.. Kek.. aw…
aw…”

Lima belas menit kemudian aku pun sampai pada puncak
kenikmatan, dimana tepat sebelum keluar aku sempat menarik batang
kemaluanku dari lubang kemaluan Dhea dan menyemburkan cairan kental
hangat di atas perut Dhea dan aku pun langsung ambruk meniban tubuh
Dhea. “Aw.. agh.. agh.. Dhea.. memekmu.. memang.. luar biasa, kontol
Kakek.. sampai dipelintir di dalam memekmu…agh… kamu.. me..
memeng… hebat…”

Setengah jam kemudian, dengan terkaget aku terbangun oleh elusan tangan lembut memegangi kontolku.
“Kakek…
habis… ngapain.. Kakak Dhea… kok… Kakak Dhea dan Kakek
telanjang… kayak habis.. mandi.. Marsha juga.. mau dong telanjang..
kayak… Kakek dan.. Kakak Dhea.”
“Hah.. Marsha jangan… telanjang!”

Tapi
perkataanku kalah cepat dengan tindakannya Marsha yang langsung
melepaskan semua pakaiannya hingga Marsha pun bugil
. Aku terkejut
melihat Marsha bugil dimana tubuh anak umur 11 tahun ini kelihatan
sempurna, lubang kemaluan Marsha yang masih gundul belum tumbuh
bulu-bulu halus tetapi payudaranya sudah mulai berkembang malah lebih
montok dari payudara Dhea. Kulit tubuh Marsha pun lebih putih dan
mengkilat dibanding kulit tubuh Dhea, sehingga membuat nafsu seks-ku
kembali meningkat.

“Kek… Marsha kan tadi ngintip ketika perut
Kakak Dhea dimasukin sama punya kakek.. Marsha juga mau dong.. kata mama
dan papa, kalau Kakak Dhea dapat sesuatu pasti Marsha juga dapat.”
“Oh… mama dan papa bilang begitu yach, kamu memang mau perut kamu dimasukin punya Kakek.”
“Iya.. Kek.. Marsha mau sekali.”

Tanpa
banyak basa-basi kusuruh Marsha terlentang di atas karpet. Dengan agak
riang Marsha langsung terlentang, aku duduk di sampingnya kedua kakinya
aku lebarkan sehingga lubang kemaluannya yang gundul terlihat jelas.
Kusuruh Marsha menutup mata. “Marsha sekarang tutup matanya yach, jangan
dibuka kalau Kakek belum suruh, nanti kalau sakit Marsha hanyaboleh
bilang sakit.” Marsha pun menuruti permintaanku. Lubang kemaluannya
kuusap dengan jari tengahku dengan lembut dan sesekali jariku kumasukkan
ke lubang kemaluannya. Tangan kiriku dengan buasnya telah meremas
payudaranya dan memelintir puting yang berwarna kemerahan. Marsha mulai
menggelinjang.

Dia tetap memejamkan matanya, sedang mulutnya mulai
nyerocos. “Ah… ah… ah.. sshh.. ssh…” Kedua kakinya disepakkan
ketika jari tengahku menyentuh klitorisnya. Lidahku mulai menjilati
lubang kemaluannya karena masih gundul, dengan leluasa lidahku
mengusapliang kemaluannya sampai lidahku menyentuh klitorisnya.
Dikarenakan usianya lebih muda dari Dhea maka lubang kemaluan dan
klitoris Marsha rasanya belum terlalu manis dan 10 menit kemudian
keluarlah cairan kental putih yang rasanya masih hambar menetes dengan
derasnya dari dalam lubang kemaluannya membasahi lidahku yang sebagian
tidak kutelan karena rasanya yang masih hambar sehingga membasahi paha
putihnya.

“Ah… ah… ngeh.. ngeh… Marsha.. basah nih Kek…”
Kuambil bantal Sofa dan kuganjal di bawah pantat Marsha sehingga lubang
kemaluan itu agak terangkat, lalu kutindih Marshadan kutempelkan batang
kemaluanku pada lubang kemaluannya yang masih berlendir. Kuhentak batang
kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Marsha yang masih lebih rapat dari
lubang kemaluan Dhea. Kuhentak berkali-kali kemaluanku sampai 25 kali
baru bisa masuk kepala kemaluanku ke lubang kemaluan Marsha. 25 kali
juga Marsha menjerit.

“Aw.. aw.. sakit.. Kek… sakit.. sekali..”
“Katanya kamu mau perutmu aku masukin punya Kakek seperti lubang kemaluan Kakak Dhea.”
“Iya Kek… Marsha mau… Marsha tahan aja deh sakitnya.”

Kepala
kemaluanku yang sudah masuk ke lubang kemaluan Marsha kehentak sekali
lagi, kali ini masuk hampir 3/4-nya batang kemaluanku ke lubang kemaluan
Marsha, ini karena lubang kemaluan Marsha masih licin sisa lendir yang
tadi dikeluarkannya.

“Hegh… hegh… hegh.. iya Kek sekarang Marsha
nggak sakit lagi… malah enak.. rasanya di perut Marsha ada yang
dorong-dorong… Hegh.. Hegh…” komentar Marsha ketika menahan hentakan
batang kemaluanku di lubang kemaluannya.

Setelah 30 menit lubang
kemaluannya kuhujam dengan hentakan batang kemaluanku, meledaklah cairan
kental dan tetesan darah dari lubang kemaluan Marsha keluar dengan
derasnya yang membasahi kemaluanku dan pahanya. Marsha pun langsung
pingsan. “Arrgh.. arrghh.. ssh… Kek… Marsha.. nggak kuat… Kek…
Marsha.. mau pingsan… nih… nggak.. ku.. kuaatt…”

Bacaan sex top: Cerita Sex Terkini Nikmatnya Bermasturbasi

Pingsannya
Marsha tidak membuatku mengendorkan hentakan kemaluanku di lubang
kemaluannya yang sudah licin, malah membuatku makin keras menghentaknya,
yang membuatku sampai puncak yang kedua kalinya setelah yang pertama
kali di lubang kemaluannya Dhea, tapi kali ini aku tidak sempat menarik
batang kemaluanku dari dalam lubang kemaluan Marsha sehingga cairan
kental hangat itu kubuang di dalam perut Marsha dan setelah itu baru
kulepaskan batang kemaluanku dari lubang kemaluan Marsha yang masih
mengeluarkan lendir.

“Ah.. ah… ser… ser… ser… jrot.. jrot..
agh… ag.. ssh… argh…” Tubuhku pun langsung ambruk di tengah Marsha
yang pingsan di atas karpet dan Dhea yang tertidur di sofa. Satu jam
kemudian aku terbangun di saat batang kemaluanku berasa dijilat dan
ketika aku melirik aku melihat Dhea dan Marsha sedang bergantian
mengulum batang kemaluanku dan menjilati sisa cairan lendir tadi, kuusap
kedua kepala cucuku itu yang lalu kusuruh keduanya mandi.

“Dhea.. sudah.. sayang.. sana ajak adikmu.. bersih-bersih dan mandi setelah itu kita ke Mall, beli McDonal.. ayo sayang!”
“Kek.. Dhea puas deh.. lain.. kali lagi yach Kek!”
“Asyik beli McDonal.. tapi lain kali lagi yach… Kek, perut Marsha jadi hangat.. deh.. enak..”
“Iya.. sayang.. pasti lagi.. ayo sekarang Kakek yang mandiin.”

Setelah
itu kami pun mandi bertiga, sejak saat itu kedua cucuku selalu tiap
malam minta coba lagi keganasan batang kemaluanku. Aku pun tersenyum
bangga bahwa aku memang penakluk perempuan, walau perempuan yang aku
taklukan adalah kedua cucuku yang sekarang tinggal bersamaku. – Situs dewasa sex online terlengkap, novel sex terupdate, novel sex
dewasa, novel
xxx terbaru, novel cerita hot, novel cerita bokep, novel cerita porno,
novel mesum, novel abg ml, novel tante selingkuh, novel janda hypersex,
novel sex terpanas, novel perawan suka bugil
.

Tamat