Cerita Dewasa Terkini Paling Hot Top Romansa Jepara

Cerita Dewasa Terkini Paling Hot Top Romansa Jepara - Cerita ngentot terhot, Sebelumnya kisah sex yang pernah saya publish ialah Cerita Dewasa Layanan Plus-plus Dari Model Hyper SexCerita sex terbaru, novel sex terlengkap, cerita dewasa terupdate, cerita mesum terbaik, cerita ngentot terpopuler, cerita bokep terselubung, cerita xxx terhot, cerita ml abg perawan, cerita porno janda binal | Aku seorang wirausaha muda yang tertipu habis-habisan oleh mafia importir dari Malaysia. Usaha furniture rotan sintetisku yang baru mulai berkembang terjebak kredit macet bank akibat raibnya 5 container full produk eksport di negri tetangga.

Cerita Sex Terkini 2016 Paling Hot Top Romansa Jepara

Cerita, Dewasa, Terkini, Paling, Hot, Top, Romansa, Jepara, cerita sex, cerita dewasa, cerita semi, cerita panas, cerita hot, cerita bokep
Ilustrasi Foto Syur Cewek Seksi Bispak Hot Terbagus
Novel Seks - Ibu Heni, wanita baik hati itu orang yang telah memberiku kesempatan utk bangkit dari kebangkrutan.Bu Heni dan suaminya pemilik show room furniture besar di kota Jepara membantuku dengan suntikan modal membangun ulang usaha rintisanku. Sudah 3 tahun kerjasama bisnis kami berjalan baik. Tapi aku malah terbawa situasi dan tidak mampu mengontrol diri.
Kumpulan cerita dewasa, cerita dewasa 2016, cerita dewasa terbaru, cerita dewasa igo, cerita dewasa igo terbaru, cerita dewasa igo bugil, cerita dewasa igo 2016
Namaku Danu, usia 25 tahun. Masih lajang. Aku tumbuh dan besar dari sebuah yayasan yatim piatu setelah kedua orang tuaku wafat 20 tahun yang lalu. – cerita sex terbaru – Aku seorang yang energik,supel, dan cerdas. Semua syarat utk menjadi entreprenuer sukses ada pada diriku. Hanya aku memeliki kelemahan soal mengelola syahwat dan fantasiku menyimpang. Aku menyukai wanita setengah baya. Dan Ibu Heni memenuhi semua ciri-ciri wanita idamanku.

Cerita dewasa terbaru, Jujur saja, pertama kali mengenal dan menjalin hubungan bisnis aku telah tergoda dengan penampilanya. Ibu Heni wanita paruh baya berumur 45 tahun. Tubuhnya tinggi sekitar 170cm dan besar, lekuk tubuhnya sangat menarik. Pinggangnya ramping untuk ukuran badannya yang besar. Pinggulnya yang lebar dan padat meliuk dihiasi oleh bongkahan pantatnya yang bulat membusung. Kesimpulannya, keseksian tubuh Ibu Heni bagaikan spanish guitar versi large.

Beliau menggunakan kaca mata dan wajahnya masih terlihat anggun dan cantik. Lehernya jenjang memanjang dengan rambutnya yang curly tergerai sebahu, kulitnya putih bersih. Jika beliau mengenakan pakaian yang menjadi favoritku, gaun bahan kaos merah dan rok abu-abu pas setinggi lutut,menunjukkan pahanya yang panjang dan besar,serta betisnya yang indah itu jantungku berdetak kencang.

Sudah terlalu banyak foto dan video tentang penampilan dirinya yang aku ambil secara diam-diam dengan handpone blackberry tersimpan di dalam notebook di meja kerjaku. Setiap kali selesai memperhatikan seluruh gambar dan video-video itu perasaanku tambah menggila.

Sebenarnya pola pikir,mental dan aktifitasku sehat.Keseharianku disibukan oleh usaha mengembangkan bisnis, menjalankan strategi marketing yang cerdas dan efektif dan membangun network. Tidak jarang aku bertemu dengan wanita-wanita cantik yang kebetulan aku jumpai dalam perjalanan dan proses bisnis, tapi mereka luput dari perhatian.

Setiap kali aku menjumpai Ibu Heni di show roomnya atau ketika dia mengunjungi pabriku perhatianku bercabang. Suami beliau seorang perfeksionis yang terkadang membuatku tidak nyaman.Dia memiliki semua karakter pecundang yang sangat aku benci.Usaha mereka ini sebenarnya totally di besarkan dan hasil warisan dari suami Ibu Heni yang pertama yang telah wafat.

Pak Jono, seorang penderita diabetes akut dan tergantung oleh suntikan insulin. Dari pernikahan yang kedua ini, 15 tahun yang lalu,Ibu Heni tidak memperoleh anak. Mbak Shinta, anak perempuanya yang telah menikah dan memberikanya seorang cucu laki-laki berumur 5 tahun adalah anak dari suaminya terdahulu.

Mungkin karena aku cemburu, atau memang karakter Pak Jono yang membuatku tidak nyaman, tanpa merasa bersalah aku membiarkan diriku terjebak dalam fantasi tidak senonoh terhadap istrinya.

Lalu aku mengenal mbak Lilis. Penjaja Jamu gendong asal Solo yang mulai rutin menjadi langganan pegawai-pegawaiku dipabrik semenjak 2 bulan yang lalu.

Well, sebenarnya aku tidak suka minum jamu, tapi aku concern dengan penampilan mbak Lilis. Wanita berumur 35 tahun ini berpostur tinggi besar, lemu, sekilas mirip postur Ibu Heni tapi wanita ini lebih tinggi,gemuk dan kulitnya agak gelap.

Wajahnya biasa saja, hidung pesek, pipi chubby, rambut tidak terlalu terawat,secara keseluruhan parasnya memang tidak terlalu jelek,, hanya ndeso. Tentu saja dia selalu mengenakan pakaian kebaya berikut kain selendang dan bawahan batik khas penjual jamu, lekuk tubuhnya terlihat jelas. Besar dan padat, sesekali aku teringat Ibu Heni setiap menatap mbak Lilis. Meski bagian bokongnya tidak sebanding dgn keindahan milik Ibu Heni.

Hingga pada suatu hari aku melihat wanita ini sebagai objek pelampiasan. Dari obrolan-obrolan beberapa pegawai aku mengetahui ternyata mbak Lilis mengerjakan “side job”. Sebagai seorang janda dengan 2 anak,untuk menjalani kerasnya hidup dia melayani beberapa tawaran laki-laki hidung belang dengan harga tertentu.Tapi tidak semua tawaran dia terima, mungkin untuk mencari aman atau melakukanya hanya ketika dia menginginkanya atau juga di saat tuntutan materi yang mendesak.

Butuh waktu 1 bulan utk meyakinkannya menerima penawaranku. Dengan iming-iming imbalan yang cukup besar utk amatir sekelas dia akhirnya mbak Lilis bersedia.

Sabtu sore, aku menjemputnya di depan Indomaret,somewhere diujung kota Jepara untuk menjaga supaya tidak ada orang yang aku kenal, baik pegawai, relasi atau teman-temanku mengetahui kebejatanku. Butuh perjalanan 1 jam lebih utk mencapai sebuah resort lumayan lux di kota dingin nan sepi di Cilimus, Kuningan. Aku membooking mbak Lilis all night long hingga keesokan paginya.

Malam menjelang, mbak Lilis baru saja selesai berpuas diri mandi dibathub. Makanan telah tersaji di ruang tamu mini di dalam cottage. Udara yang dingin menggigit membuat kami makan dengan lahap.

Aku memperhatikan wanita ini seksama. Dengan rambut tergerai hingga ke bahu dan kimono biru gelap yang dikenakanya mbak Lilis terlihat cukup menarik. Bukan sekali ini aku kencan dengan wanita nakal, tapi obsesiku tentang Ibu Heni membuat malam ini terasa beda.

Kami hanya mengobrol basa basi soal makanan dan cuaca, tidak membahas apa yang akan terjadi malam ini.Setidaknya kami sama-sama paham bahwa keberadaan kami di sini utk alasan masing-masing yang personal.

Permainan dimulai satu jam kemudian.

“Sdh siap mbak?” Ujarku tanpa basa basi.
“Yo wis, siap kok mas..” Jawabnya santai.

Lampu ruang tamu dan belakang telah aku matikan.Hanya tersisa dua lampu tidur kecil di dua sisi ranjang. Kami saling bertatapan dalam suasana redup.Jantungku berdetak, aku membayangkan wanita tambun dihadapanku ini adalah ibu Heni. Aku menariknya duduk berdampingan diujung ranjang. Aroma lehernya wangi, aku mencium dan memainkan lidahku di sana. Kemudian kedua tanganku menjamah bahu dan lingkaran pinggangnya.Sekejap kemudian aku meraba dan mencium seluruh tubuh bagian atasnya dengan nafas memburu. Mbak Lilis membaringkan tubuhnya, masih dengan kedua kakinya menapak lantai ubin yang sedingin es.

Kimono itu telah terlepas ikatanya hingga terlihat bra,bagian perut dan celana dalamnya. Bagian yang masih menutup pahanya itu aku singkap. Paha dan pinggul yang besar itu menantangku. Kecupan-kecupanku langsung membalurinya bahkan onggokan selangkangan mbak Lilis tidak terlewatkan. Tercium aroma khas memek yang mulai mencair.

Ringkas cerita, kami telah siap tempur. Aku dalam posisi menindih sebagian tubuhnya dengan kemaluan berdiri dimuka memek mbak Lilis yang berbulu lebat dan besar. Dengan tangan kiri,aku mengarahkannya masuk. Dalam.. sangat dalam.. hingga wanita yang usianya 10 tahun lebih tua dariku ini meringis,aku mendesis terpapar kenikmatan.

Selanjutnya aku menghajar mbak Lilis dengan beringas. Mataku terpejam sambil menghentak-hentak kejantananku, membayangkan wanita yang aku garap ini adalah ibu Heni. Terbayang wajah cantiknya mengerang dan tengah dilanda kenikmatan bersamaku.

Awalnya masih terlihat semburat senyum dibibir mbak Lilis. Tapi tak lama kemudian wajahnya berubah. Kedua alisnya mengkerut, gurat wajahnya seperti tengah menahan sesuatu yang membuatnya terpedaya. Tubuh bongsor itu tergoncang2 hebat di bawahku.

Mungkin 10 menit telah berlalu, keperkasaanku belum usai merambahi kewanitaanya.Mbak Lilis berpeluh dan gelisah dibawahku. Dia menikmati ranjang panas ini dengan daya tahan yang baik. Aku adalah mesin sex sejati, seluruh wanita yang pernah aku gauli selalu menyerah dalam hitungan tidak lebih dari 10 menit. Aku bagai banteng ketaton menghajar, meliuk2 penuh tenaga dan kejantananku bagai tonggak kayu keras mengaduk2 liang kenikmatanyaa secara bertubi2 tanpa jeda.

Akhirnya wanita ini terpaksa menyerah ketika kami berganti posisi, aku menghajarnya dari bawah. Hujaman k0ntolku meruntuhkan pertahananya, aku mencengkram keras bulatan pantat besar itu hingga selangkangan mbak Lilis tidak bisa bergerak terjajah garangnya senjataku.

Wanita ini menjerit melengking tinggi, pinggul dan pantatnya mematung dan kejang. Seraya kepalanya terhempas dalam dekapan di dadaku. Aku malah menusuk dan menekan memeknya lebih keras.

“Mass…massssss….uuuuhhh….aduuuuhh…” Serunya sambil merintih.

Terasa memeknya bergolak dan cairan hangat itu mengalir deras membasuh k0ntolku. Selanjutnya dia terkulai lemah disampingku. Dadanya yang besar naik turun, nafasnya tersengal, matanya terpejam, wajahnya berkilauan oleh peluh yang masih mengalir dari dahi. Aku bangkit berdiri,mengenakan pakaian seadanya, membiarkanya terkapar diranjang beristirahat sejenak.

3 batang Marlboro putih telah kandas di asbak. 15 menit aku duduk di luar,udara makin terasa menggigit di pinggir kolam renang depan cottage.

Aku kembali masuk untuk menyelesaikan yang tadi tertunda sesaat.Mbak Lilis baru saja keluar dari kamar mandi, wajahnya sedikit segar tersapu air dan rambutnya kembali rapi terurai. Kimono biru itu kembali tertutup rapat hingga keleher.

“Dingiin banget ya mas…” Serunya sambil menunjukan wajah menggigil.
“Iya mbak..itu ada air panas klo mo bikin teh atau kopi..” Jawabku.

Kami berdiri berhadapan, wanita ini terlihat lebih besar dan tinggi dari diriku yang sedikit kurus. Mbak Lilis menyodorkan secangkir teh hangat di depanku sambil menyeruput sedikit teh dari cangkir di tangannya.

“Mas kuat juga..hehe..gak nyangka..tak pikir sampeyan yang kalah duluan..”Lanjutnya.
“Aku baru 25 mbak, jgn dipanggil mas..”Jawabku sambil mengulum bibir.
“Walah..cah piyik toh..kok mau2nya ngajak saya, wis tuir ngono mas ..”
“Hehe..gak liat umur mbak..klo sudah nafsu yaa tetep aja ..”Jawabku.
“Gimana, bisa lanjut lagi..”Lanjutku tanpa basa basi.
“Yaa iso..mbak siap aja ngeladeni..”Jawabnya sambil tersenyum.

Mbak Lilis telah melepas kimononya, pakaian itu terkulai di lantai. Terlihat tubuh besarnya yang montok dari belakang. Bagaimanapun tubuh Ibu Heni lebih seksi, pinggangnya ramping dan bulatan pantatnya lebih menantang tidak seperti wanita ini, pinggangnya sedikit menggelambir. Tapi setidaknya hasratku akan terpuaskan malam ini.

Jam 9 malam, kami bersiap kembali dalam peraduan yang saru. Mbak Lilis telah baring telentang, tidak ada bra dan cd lagi menutupi. Aku langsung menindih dan menjalari seluruh tubuhnya dengan ciumanku.

Wanita ini kembali bangkit gairahnya sementara senjataku siap mengacung keras.Aku langsung membuka lebar kedua pahanya yang besar,kedua tanganku menahanya dengan kuat pada kedua sisi tubuhnya. Mbak Lilis membantuku menuntut kepala k0ntolku menuju vaginya. Dengan sekali menekan seluruh batang itu masuk merangsek ke dalam. Mbak Lilis wajahnya kembali tegang, aku membiarkanya terdiam beberapa saat. Kembali terasa memek itu basah. Kemudian tanpa membuang waktu aku menyodok2 kejantananku dengan keras. Jepitan kemaluan mbak Lilis segera membuatku kembali terbuai kenikmatan. Makin nikmat makin cepat dan kasar aku menghentak-hentak selangkanganya.

Kedua tanganku berpindah mencengkram kedua sisi bantal di samping kepala mbak Lilis. Kaki wanita
tambun itu melingkar tergantung pada pinggangku.
Dia kembali merintih..Sekejap saja aku sudah membuatnya makin belingsatan. Tapi kali ini aku pun terpapar kenikmatan mendekati akhir. Nafasku mendengus hangat, dan bayangan wajah Ibu Heni sekelebat menghinggapi benakku,aku terpejam.

Rintihan mbak Lilis makin menjadi, ritme gerakanku makin cepat, jantungku meledak-ledak memburu puncak kegilaan. Dan akhirnya aku meregang..terasa aliran sperma itu bergerak naik, bayangan wajah Ibu Heni makin terlihat jelas, akhirnya ketika k0ntol itu berhenti pada sodokan terakhir aku menggapai puncak. Dan..

“Ahhhhhh..ssshhh…hoohhhh…..Buuu…bu Henii….ooohhhhh….ssshh…” Aku mengerang hebat dan tanpa sadar menyebut nama wanita itu.

Spermaku panas berkali-kali menghujam liang memek wanita ini,banyak, sangat banyak…

Di bawahku mbak Lilispun mengejang, tanganya mencengkram pantatku dan menekan dengan kuat.

“…duuuhhh…massss…uuhhh…massss” Mulutnya merintih tiada henti, matanya tegang menatap wajahku.

Cairan hangat kewanitaan mbak Lilis kembali mengalir melumuri batang k0ntolku. Kami kemudian terkulai lemas sambil berpelukan. Terdiam beberapa saat kemudian aku menjatuhkan tubuhku disampingnya. Satu dua tetes sisa cairan itu jatuh mengalir ke pangkal k0ntolku. Jantungku masih berdegup kencang.

“Wahh siapa tuh mas yang di sebut tadi..hayoo..” Seru mbak Lilis menggodaku.
“Yaaa wanita idaman saya mbak,mirip-mirip mbak lah badannya…”Jawabku santai.
” Ealaaa..ternyataaa…hehe..” Lanjutnya tanpa menyelesaikan kalimat.
“Yang tadi gak papa saya keluarin di dalem ?”Tanyaku.
“Gak papa mas, rutin minum pil kok, biasanya saya gak mau klo gak pake kondom, cuma dengan sampeyan gak tau knp, pengen aja..”Jawabnya.

Sekejap saja Kami tertidur lelap, tapi menjelang tengah malam kami terbangun. Makan cemilan sambil ngobrol hingga jam 1, selanjutnya pergumulan binal kami kembali terjadi.

Keesokanya menjelang tengah hari sebelum pulang kami kembali melakukan hubungan badan hingga tuntas, mbak Lilis menginginkan semprotan spermaku menyirami wajahnya, wanita itu terlihat puas, entah apa yang ada didalam benaknya.Semenjak hari itu perzinahan kami terus berlanjut, setidaknya satu kali dalam sebulan kami bertemu.

Seperti ada peluang, 2 bulan sesudah kencan panasku dengan mbak Lilis, keluarga Ibu Heni dalam prahara.
Seorang perempuan keturunan china dan anak perempuanya yang berumur 8 tahun mendatangi rumah keluarga mereka 2 minggu yang lalu. Pak Jono tidak bisa mengelak bahwa mereka adalah bagian hidupnya yang selama ini tersembunyi dengan rapat. Kekecewaan dan kemarahan Ibu Heni tidak tertahankan. Pernikahan mereka yang telah berlangsung sekian lama harus segera berakhir dengan tragis.

Perlahan dan pasti kedekatanku dengan beliau semakin erat. Obrolan2 kami tidak melulu soal bisnis, aku telah menjadi limpahan cerita kesedihan wanita paruh baya ini. Aku memanfaatkan situasi dengan siasat jitu agar Ibu Heni bertambah simpati terhadapku.

Kerap kali setiap aku pergi beberapa hari keluar kota utk perjalanan bisnis ibu Heni menghubungiku melalui pesan singkat sekedar bertanya kapan aku pulang. Wanita ini makin membutuhkan kehadiranku,rencanaku berjalan dengan baik.Cukup lama aku membiarkan situasi ini berlangsung hangat selama beberapa bulan. Hingga ada saatnya aku mengambil keputusan utk mengutarakan maksud hati.

Suasana malam minggu itu terasa tepat, Ibu Heni tengah seorang diri di rumah. Anak semata wayangnye tengah berlibur bersama suami dan anaknya keluar negri. Aku datang ke rumah dengan membawa makanan jepang kesukaanya. Kami
mengobrol hangat selama beberapa jam, membicarakan soal bisnis dan masalah pribadi beliau.

Saat menjelang aku pulang aku mulai mengutarakan proposal pribadi.

“Bu, sudah brapa lama kita kenal?” Ujarku memulai pembicaraan baru.
“Lumayan lama kan Nu, kenapa memangnya..mungkin ada 2 tahun yah”jawabnya santai.
“Sudah terlalu banyak hal yang kita sharing utk mengenal satu sama lain..”Jawabku.
“Iya, banyak, ibu beruntung kenal kamu, kamu baik..”Ujarnya sambil tersenyum.
“Bu, mohon maaf, kira2 klo saya ngomong yang sangat personal ibu bisa trima gak..” Jawabku, jantungku sedikit berdebar.
“Yaa monggo ..toh selama ini jg kamu banyak kasih saran pribadi ke ibu..”
“Mm..klo saya bilang saya tertarik dan suka dengan ibu,…gimana..” Suaraku sedikit bergetar.

Ibu Heni terkejut dengan kalimatku, wajahnya sedikit aneh tp kedewasaanya mengalir keluar.

“Kamu ngomong apa toh Nu, nggak-nggak aja..”Jawabnya santai sambil tersenyum.
“Saya serius kok Bu,..”
“Hehe..kamu salah klo berpikir kaya gitu Nu…sudahlah,mungkin pikiranmu lg kacau atau sedang capek,makanya ngelantur..” Sambungnya.
“Nggak kok Bu, terus terang sdh sedari awal kita kenal saya sdh menyukai Ibu,maaf yaa bu, saya tau sikap ibu selama ini ikhlas sama saya..”Lanjutku.
“Mungkin saya keterlaluan, tapi saya berusaha jujur loh bu..” Ibu Heni terdiam beberapa saat. Sikapnya yang anggun dan kalem membuatku salah tingkah.
“Yo Wis, sdh malem Nu, kamu pikir-pikir dulu apa yang baru kamu bilang. Kamu baik, ibu nganggep kamu sperti anak bukan cuma rekan bisnis lagi..”Jawabnya.

Aku hanya tersenyum pahit tp kemudian mengangguk.

“Baiklah bu, sudah malem. Mohon maaf kalo saya lancang..”Jawabku
“Nggak papa kok Nu..yo wis..sampe sesok yo..”

Malam itu berakhir dengan kekecewaan, aku pikir smua siasatku berhasil dan mengharapkan jawaban yang beda dari beliau. Mungkin memang tidak mungkin dia menerima perasaanku, wanita ini jauh usianya diatasku. Beliau harus menjaga martabatnya sebagai wanita terhormat. Bodohnya aku.

Malam menjelang tidur, tiba2 Ibu Heni mengirimkan sms.

“Nu, ibu minta maaf utk ksalahpahaman ini, ibu harap kamu ngerti dan hubungan kita tetap seperti biasanya.”
“Iya Bu, saya paham, justru saya yang mohon maaf. Ibu bantu saya disaat saya down, sekarang saya sudah mapan dan usaha saya makin besar, saya berhutang budi dan harus membalasnya dgn baik. Tp mohon ibu pahami bhwa prasaan saya bkn krn materi,itu Heni feeling saya sbagai laki-lki utk wanita yang saya sayangi.” Jawabku.
“Iya Nu, ibu paham kok, slamat tidur”

Satu minggu lebih kami tidak bertemu. Diluar kebiasaan, tapi satu dua kali kami brbicara via telp utk urusan order dan supply barang.

Satu bulan berlalu, aku mulai putus harapan utk mendapatkan wanita idamanku ini. Kami mulai jarang bertemu dan hanya berbicara utk hal2 yang penting soal bisnis. Aku sperti laki2 yang tengah putus cinta.

Terkadang aku sadar apa yang aku lalui ini adalah sebuah kebodohan, menyimpang dan konyol.Di tengah kegalauan ini aku msh satu dua kali berkencan dengan mbak Lilis. Wanita sederhana itu menjadi pelampiasan kekecewaanku. Pernah satu kali aku memaksakan kehendak. Mungkin waktu itu mbak Lilis sedang tidak mood utk melakukan hubungan intim, aku sedikit memperkosanya di ruangan kantorku.

Dengan hanya menyingkap kain batik penutup tubuh bawahnya aku menggarap kewanitaanya dengan kasar dari belakang. Spermaku berceceran di lantai ketika mbak Lilis berhasil menendangku kebelakang tepat disaat aku mencapai klimaks.Semenjak hari itu wanita ini sulit utk diajak bertemu.

Tapi tidak ada usaha gigih tanpa membawa hasil.Pada awal bulan kedua Ibu Heni mulai berubah sikap. Dia mulai intens mengirimku sms, terkadang juga makanan dan sesekali berkunjung ke pabrik.Tanpa sungkan dia kembali menjadikanku curahan kegalauan hatinya. Aku berusaha bersikap gentle seolah melupakan pristiwa sebelumnya. Hubungan kami berangsur normal.

Satu minggu yang lalu, akhirnya sesuatu yang aku impikan selama inipun terjadi. Hari itu Jepara dilanda hujan badai sepanjang hari. Aku terpaksa menunggu lebih lama di rumah Ibu Heni, jalan di ujung gang menuju jalan protokol tertutup runtuhan pohon dan air tergenang stinggi betis orang dewasa di sekitarnya.

Malam itu ibu Heni mengundangku makan malam.Hanya ada pembantu dan sopir pribadi di rumah seperti biasanya, merekapun telah tertidur. Kami masih mengobrol di ruang tamu, sudah jam 9.30 malam. Hujan msh turun deras di luar.

“Nu, kamu kapan mau nikah, umur sdh cukup loh..bisnis km jg sdh mapan..” Ujar Ibu Heni memulai topik pembicaraan baru.

Aku hanya tersenyum,

” Blum ada yang cocok bu, masih blum sreg..”Jawabku.
“Apa mau dicariin, tipe-tipe kamu sperti apa nih..”Lanjutnya sambil tersenyum.

Wanita ini sangat cantik dengan senyum dibibirnya yang tipis dan mungil, kulitnya terlihat bercahaya pada pantulan sinar lampu dan baju merah hati yang dipakainya. Rok abu2 gelap setinggi lutut itu menambah keanggunanya. Terlihat lekukan betis dan pahanya yang besar dan indah.

“Loh Nu, kok ngelamun..” Sergahnya menyadari aku tertegun beberapa saat.
“Eh iya bu, tiba-tiba aja inget ada yang ketinggalan di kantor..ibu nanya apa tadi..ow tipe saya yang seperti apa..”Jawabku tergesa-gesa.
“Iya jd yang sperti apa, Ibu banyak punya kponakan loh..cantik-cantik” Lanjutnya.
“Mm…hehe..bingung Bu..yaa nanti2 lah jawabnya..”Jawabku ragu.
“Loh kok bingung, yang penting itu sifat dan karakternya Nu, soal cantik itu bonus..tp utk anak muda kayak kamu pasti ngeliat penampilan dulu ya..hehe..”

“Yaa gak jg sih bu, kalo saya cari yang bikin saya nyaman dan dewasa cara brpikirnya..” Jawabku.
” O gitu..yo wis nanti tak coba-coba cari yang cocok..” Lanjut Bu Heni.
” Yaa gak usah repot-repot bu..”Jawabku, tiba-tiba saja kenekatanku timbul.
“Loh kenapa Nu..” Ujar Bu Heni.
” Yang saya mau dari dulu sudah ada sih bu, tp kayaknya gak bakal terjadi..” Aku coba memancing.
“Lho..lho..siapa toh, kok kamu gak pernah cerita, kamu ganteng dan sukses gini kok bisa-bisnya ditolak perempuan?”
“Hehe…” Aku cuma tertawa kecil kemudian diam.

“Kenapa Nu, kamu gak percaya diri atau mungkin orangtuanya jadi hambatan..”Lanjutnya.
“Bukan Bu, yang bersangkutan gak mungkin bersedia nikah dengan saya..”Jawabku.
” Kenalin ke Ibu, biar ibu coba bicara sama dia..”
” Hmmm…skali lagi gak usah repot-repot kok Bu, ibu juga pasti kenal..”Jawabku penuh teka teki.
“Loh siapa??” Tanyanya heran.
“Wanita itu yaa ibu sendiri..”Jawabku nekat, wajahku datar, menunjukan bahwa aku sedang serius.

Beliau terdiam, tiba-tiba saja dia teringat ucapanku beberapa bulan yang lalu. Tapi masih tersenyum walau dengan sedikit getir.

“Apa yang kamu cari dari Ibu, Nu..menjanda dua kali, usia ibu jg sudah mau 46, kamu masih muda,jauh dibawah usia ibu, mungkin belum memahami sepenuhnya apa yang kamu rasa” jawabnya.
“Saya sdh cukup dewasa bu, cinta jg gak kenal umur. Ibu orang baik, semua yang dekat dengan ibu pasti merasa nyaman.Di luar perasaan berhutang budi,saya dengan kejujuran hati menyayangi ibu.”

“Tapi kamu masih muda Nu, masa depan kamu masih panjang. Jiwa kamu masih fresh, penuh semangat. Sementara ibu sudah layu. Cuma ingin menikmati sisa hidup. Kalau pun ibu trima, Ibu tau kamu baik, tapi ibu tidak bisa mengimbangi kamu.”
“Ngimbangin apa nih Buk, saya pikir saya sudah cukup dewasa melebihi umur.”Jawabku.
“Nu, orang nikah jg salah satunya utk alasan fisik dan maaf, utk kepuasan sex juga, lihat Ibu dgn jernih Nu, Ibu sudah tua. Ibu pernah muda, punya bayangan jelas apa yang ibu rasa diusia kamu sekarang.”
“Maaf klo jawaban saya lancang, bener seusia saya lagi-lagi sedang2nya tertarik soal itu. Justru awal mula
perhatian saya tentang ibu karena alasan itu.” Jawabku.

“Maksudnya Nu? ”
“Ibu masih cantik, dan maaf saya suka dgn fisik Ibu, laki-lagi mana yang tidak suka melihat penampilan ibu.”Jawabku.
“Saya gembrot gini Nu, ada-ada aja kamu..”Sergahnya.
“Di mata saya seksi kok buk, kelaki-lakian saya kadang bangkit tiap melihat ibu.” Jawabku.
“Maksud kamu Nu? “Jawabnya heran.
“Saya laki-laki normal, maaf buk, saya juga tertarik sama ibu secara seksual..”
“Mmmm..apa kamu gak brpikir ini aneh Nu..”Jawabnya.
“Buat saya tidak Bu..”Beliau tersenyum, tapi kemudian diam hingga beberapa saat. Wajahnya menatap ke luar jendela.

Hujan masih turun dengan derasnya.

Aku terbawa suasana, seperti tidak bisa mengontrol diri. Aku beringsut mendekatinya.

“Kamu mau apa Nu?” Ujarnya kaget.

Tanpa menjawab aku langsung mencium bibirnya dengan lembut, dia tersedak kaget. Tapi aku blum ingin melepaskan bibirku, aku mengulum bibirnya beberapa kali sebelum akhirnya melepaskanya.

Wajah kami masih berdekatan, aku menatap matanya tanpa berkedip.

“Kamu keliru Nu..kamu salah besar..” Ujarnya sambil bangkit kemudian berjalan menuju kamarnya
meninggalkanku.

Aku dilanda kebingungan, tapi ini sdh terlanjur terjadi. Aku buru2 bangkit mengikutinya. Belum selesai beliau menutup pintu tanganku sudah bergerak menahanya, kemudian aku meloloskan tubuhku masuk ke kamar.

Tanpa membuang waktu aku langsung mendorongnya kedinding di belakang pintu. Aku langsung menghujaninya dengan ciuman panas di bibir, bertubi-tubi, tanpa jeda.Tanganku bergerak menutup pintu sambil tetap menciumi bibirnya. Ibu Heni seperti terhipnotis dgn apa yang terjadi, beliau hanya terdiam. Aku menatap wajahnya lekat-lekat dalam temaramnya kamar.

Kembali aku melumat bibirnya perlahan, trus perlahan, hingga gerakan bibirku menjadi liar. Ibu Heni bernafas tertahan, ciumanku telah bergerak turun menjelajahi lehernya yang putih jenjang.

Tanganku menggapai pinggangnya, sementara tangan yang lain meraba sebagian perut dan pinggulnya. Ibu Heni tetap bertahan tanpa reaksi.Aku makin berani.

Kali ini bagian belakang kuping dan tengkuknya aku luluri dengan lidahku. Terdengar nafasnya mulai berat. Ketika aku bergerak menciumi pangkal dadanya ibu Heni menahan wajahku dengan tanganya.

“Sudah Nu, cukup, kamu kebablasan, sadarlah nak..”Sergahnya tersengal.

Aku tidak memperdulikan ucapanya, belahan dada yang sedikit terlihat itu aku kecup dan sedikit tersedot mulutku. Ibu Heni merinding memegang tanganku. Jemari tanganku menarik lebih lebar kerah kausnya. Terpampang lebar dada putih itu, bra atasnya yang berwarna pink terlihat jelas. Aku menciumi semua bagian itu dengan penuh hasrat.Tangan kiriku meraba lembut bagian belakang pantatnya yang membusung besar itu. Jemariku meremasnya perlahan. Sepertinya beliau hanya bisa terdiam pasrah.

Kemudian jemariku bergerak turun, meraba pinggul dan paha kirinya. Sesaat kemudian tanganku telah menerobos masuk ke dalam rok bawahnya. Jari-jariku gemetar ketika meraba naik menyingkapnya ke atas. Ciumanku kembali beralih ke bibir mungil itu, aku melumatnya penuh nafsu. Wanita ini terengah-engah.

Kedua tanganku beralih bergerak melepas kaus yang menutupi tubuh atasnya, kacamatanya telah kulepas. Agak sulit mengingat beliau masih menahanya dengan mengapitkan kedua lenganya di samping.Tapi akhirnya terlepas juga, kaus itu sempa menyangkut menutupi wajah dan kepalanya, sehingga rambutnya yang panjang tersibak berantakan.Begitu terlepas aroma wangi tubuhnya menyeruak keluar. Syahwatku makin terbakar.

Payudaranya yang sudah turun dan mungil itu jadi jajahanku selanjutnya. Setiap inchi bagian rahasia kewanitaanya tidak ku lewatkan. Kedua ujung payudara itu secara bergantian aku hisap, ibu Heni memejamkan matanya sambil meringis.Ruangan itu hanya diterangi lampu tidur dipinggir kepala ranjang. Saatnya membawanya ke peraduan.
Aku menintinnya pelan, Ibu Heni seperti telah tercekam dan hanya mengikuti langkahku tanpa perlawanan.

Wanita cantik ini telah terbaring di ranjang, tubuhnya yang besar tinggi seperti menutupi sebagian besar ranjang, aku melihatnya dgn seksama. Betapa beruntungnya aku malam ini pikirku.

Keningnya ku kecup dgn lembut, wanita ini menatapku pasrah. Bibirnya kemudian kembali ku kulum sambil jemariku bergerak ke belakang pinggangnya. Kancing rok itu telah terlepas,namun agak sulit melepas kain itu. Sempat tertahan oleh besarnya kedua paha Ibu Heni.

Aku tertegun kagum melihat keindahan di bawahku.Pinggang wanita ini ramping meliuk indah dikelilingi oleh perutnya yang rata dan pinggulnya yang lebar,kencang, putih mulus. Kedua paha itu pun masih terlihat kencang tanpa cacat. Rambut ikalnya tergerai menutup leher dan bantal dikepalanya. Onggokan kewanitaan Ibu Heni tertutup rapat oleh celana dalamnya yang ketat, tercetak belahan memek di ujung bawahnya.

Aku mencium lembut perut itu, mencecar seluruh pinggul dan berakhir dipermukaan kewanitaanya. Aku memainkan2 ujung hidungku di situ. Aroma kemaluanya tercium. Aku makin bernafsu.

Wanita ini masih tetap tanpa reaksi melihat kegilaanku. Tatapanya penuh arti dan hanya terdiam. Mata kami kembali bertautan beberapa saat. Jantungku berdetak sangat kencang.

Hina, hinakanlah aku Bu, tapi malam ini adalah bukti keinginanku yang dalam tentang dirimu. Nikmati saja gairah dan keinginanku.

Jemariku bergerak menarik lepas penutup terakhir kehormatanya.Gundukan rambut halus itu membuat darahku berdesir hebat. Bibirku bergerak mendekati. Ciumanku terasa hangat membaluri permukaan kewanitaanya. Awalnya lembut, selanjutnya lidahku bergerak liar menelusup masuk bagian klitorisnya.Bau langu itu menyerang hidungku, sungguh nikmat terasa pada indra pengecapku.Ibu Heni menggelinjang, selangkanganya terangkat dan bergerak ke sana kemari. Bibirnya merintih halus sambil jemarinya memegang kepalaku dengan kuat.

Aku meneruskan aksiku, makin lama makin tidak bisa melepaskan lumatanku pada bibir kewanitaanya. Rintihanya berganti menjadi desahan-desahan gelisah dari mulut wanita itu, suaranya sedikit serak dan melengking. Ingin rasanya menghantarkanya menuju kenikmatan akhir hanya dengan permainan oralku. Tapi kejantananku berkehendak lain.

Aku beringsut berdiri, melepas habis seluruh pakaianku di samping ranjang. Ketika kemaluanku terlepas bebas berdiri dengan keras di hadapanya, Ibu Heni menutup wajahnya dengan tangan. Seperti menyadari bahwa ancaman itu makin dekat.

Aku telah berada tepat diatasnya, kedua lututku terlipat bersimpuh di antara kedua pahanya yang terbuka lebar. Tangan kiriku mengelus lembut batang kejantanku, terasa makin keras mengacung dengan bagian kepalanya yang berkedut-kedut. Ibu Henimemperhatikan perbuatanku. Matanya kemudian terpejam melihatku bergerak menuntunnya mendekati selangkangan.Maafkan aku bu, ujarku dalam hati. Sedetik kemudian bagian kepala k0ntolku telah menyentuh pangkal lubang memeknya. Pelan tapi pasti keperkasaanku menyeruak masuk, tubuh wanita ini bergetar.

Deru angin di luar mengaburkan suara rintihan wanita tinggi besar ini. Tubuhku masih menegang menahan
tekanan pada k0ntolku. Ibu Heni mencengkram kuat pinggiran ranjang dan bagian kanan bantalnya.
Tatapanku lekat menatap wajahnya, mata kami bertemu. Terlihat sorot matanya yang menunjukan seolah dia tidak berkenan dan menyesal dengan apa yang tengah terjadi. Tapi itu sudah terlambat, k0ntolku telah menyumbat liang senggamanya.

Kemudian aku menarik keluar seluruh k0ntolku, wajahnya seperti terbebas dari rasa nyeri sesaat. Tapi kembali dia mengkerutkan alisnya saat batang kejantananku kembali menusuk masuk. Masih terasa sempit, tapi bagian dalamnya telah mencair. Aku menarik ulur k0ntolku di dalam secara perlahan. Setelah di rasa cukup lega aku kemudian menggenjot tubuhku dengan pasti. Ranjang mulai bunyi berderit setiap kali aku menohok selangkanganya. Kedua tangan Ibu Heni memegang kuat kedua belah lenganku yang melingkari punggungnya. Wajah kami begitu dekat hingga setiap tarikan nafasnya yang berat terdengar jelas di telingaku.

Ciumanku kembali memapar bibirnya, tapi kali ini wanita paruh baya ini membalasnya. Bibir kami berpagutan beberapa saat hingga aku sempat menghentikan genjotan tubuhku. Selanjutnya hentakanku menemui lawan yang berarti, Ibu Heni
menampung tusukan kejantananku dengan menggerak-gerakan selangkanganya ke atas dan ke bawah. Tangannya kencang memeluk punggungku.

Sekitar 10 menit, kami masih berpagutan dengan panas, hujaman2 k0ntolku makin bebas beraksi. Sesekali k0ntolku terlepas keluar tapi dengan mudah kembali masuk tanpa perlu bimbingan. Di bawah terlihat bulu-bul kemaluan Ibu Heni terbuncah basah oleh keringat. Batang k0ntolku yang besar perkasa terlihat garang menghantam lubang sempit Ibu Heni. Permainan kami mendekati akhir, Ibu Heni mulai tidak terkendali. Tanganya gelisah bergantian mencengkram kasur, punggung dan pantatku.

Dan apa yang aku rasa tidak bisa terlukiskan saat itu. Indah, lautan kenikmatan itu seperti tiada batas, wajah cantiknya yang berpeluh di bawahku seperti bidadari yang telah lama aku impikan.

Sekejap ketika aku kian cepat melumat tubuhnya Ibu Heni melepas desakan dari dalam dirinya . Rintihanya membahana mengisi ruangan, tanganya mencengkran tubuhku, aku terdiam tanpa bisa bergerak wanita itu menghentak2an tubuhnya ke atas berulang kali. Dan akhirnya…

” Uuuuuuhh..duuuuh..sshhhh..aduuuuuh…” Jeritnya di telingaku.

Sirat wajahnya seperti menangis, lelehan kecil air liur itu menetes dari pinggir bibirnya dengan wajahnya tengadah menghadap kepala ranjang. Tubuhnya kejang-kejang dibawah tindihanku. Dan srett..srettt..sreett.. Cairan kenikmatan itu membaluri batang k0ntolku,terasa hangat. Aku ingin mencapainya secara bersamaan, aku melepas pelukanya, kedua lengan indah dan besar itu tertekan jemariku yang kaku di atas kasur.

Tiga kali aku mengayunkan kejantananku dan akhirnya hasratkupun meledak.

“Shhhh…..bbuuuu..ibuuu..ssshh…ohhhh…” Erang ku keras di telinganya.

Aku memeluk erat tubuhnya, pantatku terasa memikul beban berat ketika menekan selangkanganya tiada henti.Sedetik kemudian cairan spermaku menyemprot keluar, kemudian berhenti, lalu kembali desakan hangat itu menerjang keluar menghujani liang memek Ibu Heni. Setiap kali kepala k0ntolku menyemprot, kenikmatan itu berkali2 membuatku melayang,jeritku tiada henti hingga tetes terakhir.

Deru angin masih berdesau di luar, hujan telah berhenti. Tubuh kami terkulai berdampingan bersembunyi pada sinar lampu yang temaram. Malam ini menjadi saksi romantisme dua manusia berbeda zaman.

Kami berbaring terdiam, buliran keringat msh turun membasuh leher dan sebagian dada. Masih tercekam oleh kenikmatan yang baru saja kami rasakan.

“Kita sudah melakukan kesalahan besar Nu..” Bisik Ibu Heni memecah kesunyian.
“Saya sadar ini seharusnya tidak terjadi Bu, maaf..tapi saya tidak menyesal..saya mencintai Ibu dan mau melakukan apa saja supaya ibu bahagia..” Jawabku sambil menatap langit seraya jemariku mengelus lembut rambutnya.
“Ibu mungkin sdh tidak subur, tapi masih rutin menstruasi tiap bulan Nu, gimana kalo…” Beliau tidak melanjutkan kalimatnya, suaranya tercekat.

“Dari awal, yang saya coba mau jelasin ke ibu, saya ingin kita nikah..”
“Tapi itu nggak mungkin Nu, apa kata orang, apa kata anak dan mantu Ibu?” Tukasnya.
“Kenapa kita pusing dgn tanggapan orang, kita yang ngejalanin Bu, saya tunggu ibu sampai kapanpun utk siap jd istri saya..”Jawabku dengan yakin.
” Tapi liat kondisi kita Nu, diusia kita.. bakal jd cemoohan orang..”
“Saya tetap tunggu Ibu..apapun itu konsekuensinya…”

Wanita ini menarik nafas dalam dan melepaskanya dengan risau. Aku mencium kening dan bibirnya yang mungil dengan lembut.

” Sudah malem, saya harus pulang Bu, semuanya pasti akan baik2 saja..”Lanjutku.

Hujan dan angin kencang telah berlalu, pohon diujung gang telah berhasil dipinggirkan oleh warga sekitar. Aku meluncur pulang ke rumah, wajahku sumringah, mungkin aku telah membuat persoalan baru untuknya, tapi jalanku terlihat lebih pasti utk mendapatkan impianku.

Hari-hari selanjutnya adalah cerita tentang semangat baru. Ibu Heni terlihat lebih ceria, peristiwa malam itu tidak membuatnya membenciku bahkan hubungan kami makin berwarna .

Aku mencoba utk bersikap gentle, tidak berusaha utk mempengaruhinya mengulangi lagi peristiwa itu. Meski keinginan itu berkali-kali muncul setiap kali kami bertemu.

Satu bulan berlalu, tidak ada tanda-tanda ada progress. Aku berusaha sabar menunggu. Kami tidak pernah membahas kelanjutan percakapan kami malam itu.

Awal bulan selanjutnya aku mulai tidak sabar. Pagi sabtu itu aku menelponya.

“Pa kabar bu..”
“Baik Nu, kamu gimana, ada apa nih pagi2 nelpon..”Suaranya terdengar ceria diujung sana.
“Saya dapet voucher liburan ke bali 2 hari dari distributor nih buk, gimana kalo ibu ikut ?” Wanita ini langsung tertawa kecil.

“Danu Danu, anak muda yah suka gak sabaran..” Jawabnya.
“Hehe..maksudnya gimana nih bu..”
“Mmm..gini Nu..yaa mungkin satu dua bulan ini Ibu sudah merenung, ibu jg menilai kamu..” Jawabnya.
“Trus gimana ..”Jawabku tidak sabar.
“Kamu terlihat cukup sabar, konsisten, ibu jg brpikir kamu cukup aman, ibu ngerasa nyaman dengan kamu..kecuali soal tawaran tadi yah..” Lanjutnya sambil kembali tertawa .

“Maaf bu, soalnya mulai gak sabar..”Jawabku.
“Yaa ibu paham, kamu masih muda..”
“Mm…” Lanjutnya seperti tertahan.
“Kenapa bu, lanjutin dong..”
“Jujur, yang kita lakukan terakhir itu…”
“Ibu menikmati? ” Sergahku.

Beliau terdiam sesaat.

“Iya, jujur, ibu menikmati, sudah trlalu lama Nu, yang anehnya, ibu jadi ngerasain semangat hidup baru..”Lanjutnya.

Hatiku berbunga-bunga, jantungkupun berdegup lebih cepat.

“Kita segera nikah aja Bu, saya janji utk bikin ibu tenang..”Jawabku tegas.
“Perlu waktu Nu, kasih ibu waktu yang pas utk bicara dengan Shinta..skarang ibu masih takut..”Jawabnya.
“Saya selalu siap tunggu sampai kapanpun Bu..”

Pembicaraan berakhir, hatiku diliputi kebahagiaan. Aku memang berniat menikahi wanita ini, tidak prduli dengan tanggapan-tanggapan miring orang disekitar kami.Aku mencintainya sepenuh hati.

Tapi memang jalannya masih panjang, butuh kesabaran lebih. 1 bulan lagi berlalu, belum ada kejelasan semenjak percakapan terakhir membahas kelanjutan hubungan kami. Hatiku mulai gundah.

Siang itu cobaanpun datang. Mbak Lilis, wanita penjual jamu itu, tiba-tiba muncul di depan pintu ruanganku, aku sedikit kaget. Tubuhnya yang tinggi membuat kepalanya seolah akan menyentuh bagian atas daun pintu begitu dia masuk.

“Wahh, kemana aja nih mbak, jangan-jngan sudah tajir nih gak pernah muncul, atau jangan-jangn sudah dapet suami baru..”Godaku.
“Bisa aja mas, apa kabar nih, wahh tambah ganteng aja mas, sudah nikah blum..”Jawabnya dengan mata yang berbinar.

Wanita ini terlihat sedikit lebih gemuk, tapi kulitnya lebih bersih. Pakaianya yang mulai terlihat lusuh membungkus tubuhnya lebih ketat. Jakunku bergerak naik.

“Kerja Nu pabrik mas, 4 bulan, bosen saya balik lagi jual jamu..hehe..” Lanjutnya.
“O gitu..trus ada apa nih, saya masih gak doyan jamu loh..”Jawabku.
“Hehe…bisa aja mas..”
“Yaa saya minta maaf klo yang trakhir kmaren bikin mbak tersinggung dan marah..” Aku teringat pertemuan trakhir kami di ruangan ini, aku memaksanya melakukan hubungan intim meski dia tidak menghendaki .
“Gak papa mas wis, saya dah ngelupain kok..”
“Mau minum apa nih mbak, di kulkas banyak juice macem-macem tuh, ambil aja..”Tawarku dengan ramah.
“Iya kebetulan haus nih mas..”Jawabnya sambil berlalu mengambil minuman di kulkas kecil di sudut ruangan.

Kemudian dia duduk di sofa tamu kecil di pinggir ruangan. Aku masih duduk di meja kerjaku sambil membereskan beberapa berkas invoice.

“Anak-anak sehat mbak..?”
“Sehat mas..mas sendiri gimana, serius nih belum nikah juga..?” Jawabnya.
“Lha,nanya itu lagi, nikah dgn sopo mbak e..”
“Dengan yang suka disebut dulu-dulu itu..hehe..”Tawanya menggodaku.
“Oohh..hehe..nggak lah, sdh lama gak ketemu mbak..”Jawabku.

Kemudian kami terdiam, aku msh menyelesaikan apa yang aku lakukan. Mbak Lilis terlihat gelisah minum berkali2 dan memegang-megang botol minuman dengan tangan bergantian.

“Hmm..gini mas, saya lagi perlu uang..”Ujarnya memulai kembali pembicaraan.
“Ow..trus gimana mbak, sebentar yah, dikit lagi..”Aku segera membereskan map dan keluar ruangan, menyerahkanya pada staffku diruangan lain.

Aku kembali keruanganku, mengambil minuman dan duduk dihadapanya.

“Perlu uang brapa mbak, mau saya pinjemin atau gimana..”Aku menggantung kalimatku.
“Yaa utk bayar sewa kontrakan mas, klo mau minjemin ndak papa, kalo mau yang lain juga ndak masalah..” Serunya sambil tersenyum malu.
“Hehehe..msh blum kapok sama saya mbak?..”Godaku.
“Mas jg apa msh napsu sama saya..”Jawabnya tersipu.

Aku tertawa kecil sambil terdiam menatap lantai ruangan. Jujur, aku sdh lama tidak bercinta. Aku begitu merindukan ibu Heni, tp entah sampai kapan aku harus menunggu. Seharusnya aku mulai setia untuknya, tp aku tengah dirundung kegalauan.

“Kenapa mas, kok diem..”
“Gak papa mbak, yo wis tak saya kasih uangnya..tapi yaa itulah..”Jawabku.
“Itulah opo mas ganteng..” Serunya sambil tersenyum.
“Nanti sore jam 5, tak tunggu dirumah yah..” Jawabku tanpa basa basi.
“Nggih, Yo wis..nanti tak samperi, tak serpisno “Jawabnya.

Aku merogoh dompet dan memberikan beberapa lembaran uang 100 ribu ke tanganya.

“Matur nuwun mas..”Jawabnya kemudian berlalu.

Jam 5 kurang mbak Lilis datang ke rumah. Aku baru saja selesai olahraga lari di treadmill dengan hanya mengenakan celana pendek. Wanita itu muncul dengan pakaian sedikit ngetrend. Kaus tangan panjang hitam dengan celana jeans sebatas betis dan sepatu hak rendah, rambut panjangnya tergerai sebahu.

“Waah kaya artis ae mbak..”Godaku.
“Hehe..bisa aja mas..wahh itu kenapa kok keringeten mas..”Jawabnya.
“Abis olahraga mbake, biar sehat, persiapan jg utk ketemu mbak..”Godaku.
“Walah..kaya yang kuat aja..”Jawabnya.
“Nanti kita liat..”Seruku sambil melangkah ke dapur.

“Mo makan dan minum apa nih..”
“Makasi, sdh kenyang mas, saya jg ga bisa lama-lma, anak-anak sendirian dirumah, takut kemaleman..”Jawabnya.
“Ow okay, jd maen langsung aja nih..”
“Yaa trserah mas..”Jawabnya santai.
“Yo wiss, ayo ke kamar mbak..”

Entah kenapa tiba-tiba aku ingin melakukanya di kamar mandiku yang besar dan mewah. Ada bathtub besar di ujung ruangan,keringatku masih mengucur deras. Sebetulnya aku tidak begitu mood utk sex sore itu. Tapi sekedar melepas stress dan menolong wanita ini.

“Jadi baju dilepas di kamar aja nih mas..” Tanyanya.
“Iya mba e, masa dikamar mandi, nanti basah..”Jawabku sambil menepuk pantatnya yang besar.

Aku telah mendahului masuk, tubuhku telah telanjang. Aku membasahi sebentar tubuhku dengan air hangat dari shower. Tak lama mbak Lilis masuk.

Tubuhnya yang tinggi besar dan bahenol hanya mengenakan bra dan celana dalam berenda putih yang seperti terlalu kecil terhimpit perutnya yang sedikit membusung kebawah. Dia melangkah mendekat perlahan, terlihat kikuk. Cukup mengundang selera.

“Saya sbenarnya blum mood mbak, jd harus dirangsang dulu ..”Ujarku.
“Yaa keliatan kok mas..hehe..”Seraya melirik kejantananku yang msh trkulai.

Aku duduk dipinggir bathtub sambil menyender di dinding.Satu kakiku menapaki pinggiran atas bath tub. Mbak Lilis mendekat, aku memeluk tubuh bongsornya sambil mendaratkan wajahku didadanya yang besar. Dia tertawa renyah.

Kemudian dia membungkukan badan, mencium leher dan dadaku. Sedotanya pada ujung nippleku membuatku merinding. Setelah puas mempermainkan tubuh atasku, mbak Lilis mulai meraba selangkangan.

Tanganya mengelus batang dan kantung semarku. Sekejap saja aku sudah bergidik.Perlahan-lahan k0ntolku bergerak naik. Wanita ini tersenyum melihatnya.

“Walaah..gede yo mas..”Serunya.

Kemudian jemarinya mulai fokus mempermainkan batangku yang berdiri memanjang, dia mengocok2nya dengan lembut selama beberapa saat. Aku mulai terbakar.

“Yo Wis mbak, skarang gantian..”Seruku sambil berdiri.

Tubuhnya telah terjajar merapat kedinding, aku melepas bra dan menaruhnya di atas wastafel. Kedua payudara itu langsung ku labrak dengan bibirku. Dia meringis kegelian.

Tanganku tidak tinggal diam, bokongnya langsung ku remas-remas dan satu tangan yang lain memain2kan ujung jari tengahku pada bagian memeknya yang msh terbungkus. Sebentar saja bagian itu terasa basah, mbak Lilis mendesah.

Tanpa membuang waktu aku melepaskan celana dalamnya. Aku menyuruhnya dalam posisi menungging. Kedua tanganya bertumpu pada pinggir bathtub,tubuh besarnya membungkuk membelakangiku, sementara pantatnya yang bahenol itu telah terpampang lebar dihadapanku, bulu2 memeknya yang lebat menyeruak diantara himpitan paha belakangnya.Nafsuku makin bangkit.

K0ntolku telah mengacung keras dengan urat2nya yang besar tepat di atas belahan pantat mbak Lilis. Aku melebarkan posisi kedua pahanya. Selanjutnya dengan sedikit mengangkat bongkahan pantatnya aku menyusupkan k0ntolku di tengah2 selangkannya.

Bibir memek itu telah basah, tidak sulit utk langsung menerobosnya masuk. Jleb…seluruhnya k0ntolku telah amblas di telan lubang itu. Aku mendesis merasakan nikmat. Mbak Lilis menundukan kepalanya seperti menahan sesuatu sambil mendesah.

Tanpa buang2 waktu aku langsung menghantamkan keperkasaanku dibelakangnya berkali-kali, plok..plok..plok.. Sebentar saja kami sdh sama2 lupa diri. Makin kuat aku menghujam makin cepat mbak Lilis memutar-mutar pantatnya.

Nafas kami sama-sama memburu. Aku mencengkram punggung belakangnya dengan kuat. Suara desahan kami saling bersautan. K0ntolku terasa seperti diurut2 dalam cengkraman memek mbak Lilis.

Mungkin karena sudah cukup lama aku tidak brhubungan, atau mungkin karena suasana hati, pertahananku tidak bisa bertahan lebih lama.

Kurang dari rekorku yang selalu bertahan diatas 10 menit, jemariku dipinggangnya bergetar menahan sesuatu yang akan meledak di bawah sana. Tapi aku tidak begitu saja menyerah, wanita ini harus tersungkur diwaktu yang sama.

Aku mempercepat ritme sodokan-sodokanku, tenaga terakhirku menghempas-hempas selangkanganya lebih buas. Payudara itu tak henti ku remas dari dua sisi. Dan benar saja, wanita tambun ini menyerah lebih awal. Goyangan pantatnya tiba-tiba saja terhenti dan bergetar hebat.

“..uugghhh..mass..maass…edhuann..auwww….uhhhh..”Lengkingnya sambil tubuhnya mengejang mencengkram pinggir bathtub. Cairan hangat itu seperi air seni yang menyirami k0ntolku di dalam. Serr…serr..serr..

Aku pun telah mencapai akhir, sedetik setelah kepala k0ntolku berkedut, spermaku meledak menyemprot liang memeknya.

“mmmmpphhh..ahhhhh…ahhhhhh..ahhh..”Suaraku parau mengerang.

Kami seperti kesetanan mengejang secara bersamaan. Selanjutnya kami berdiri terkulai bersender pada dinding kamar mandi.

Kulihat sisa-sisa spermaku mengalir turun dari selangkangan mbak Lilis membasahi pahanya.

Selesai mandi bersama kami menghabiskan waktu duduk sambil minum teh di sofa tengah. Satu jam lebih berlalu. Mbak Lilis yang masih terlilit handuk membuatku kembali bernafsu.

Sebentar saja kami telah bersiap dalam posisi masing2. Wanita ini seperti kecanduan melakukanya lagi tanpa banyak bicara.

Mbak Lilis duduk menghadapku dipangkuan, sofa itu cukup kuat menahan beban kami. Sebentar saja pantatnya telah naik turun melahap k0ntolku di bawah. Permainan kami berlangsung cepat. Aku mengambil alih peranan beberapa menit kemudian, aku menghajar kewanitaanya dari bawah dengan hebat. Hanya beberapa kali mengayun aku terdesak utk memuntahkan kembali spermaku.

Mbak Lilis pun tidak lebih kuat bertahan, dia terisak ketika mencapai klimaks. Lelehan cairan kami turun membasahi pinggiran sofa sesaat kemudian. Petang itu pergumulan kami sangat memuaskan.

Satu Minggu berlalu, ada rasa sesal telah melakukan hubungan intim terakhir dengan mbak Lilis ketika mendengar kabar mengembirakan sekaligus mendebarkan dari Ibu Heni.

Pagi itu beliau menelponku, suaranya ceria dan lepas. Dia mengabarkan bahwa anaknya, Shinta, telah menyetujui rencana kami utk menikah. Diapun sebenarnya terkejut karena Shinta tanpa beban mendukung niat ibunya, yang penting Ibu yakin dan bahagia, cerita wanita itu.

Dan kabar yang mendebarkan adalah bahwa dia telah terlambat menstruasi selama 2 bulan, kemungkinan ada sesuatu yang salah. Mungkin dia hamil. Aku serasa di sambar petir mendengar kabar itu. Tapi semuanya sudah kadung, toh aku memang sangat berkeinginan utk menjadikanya istri.

Satu bulan kemudian kami menikah, dalam suana sederhana dan hanya dihadiri oleh beberapa orang terdekat. Tidak ada yang mewakiliku dari pihak keluarga, aku besar sebagai yatim piatu, saudara ayah dan ibu terpisah jauh di kota2 lain.Terlebih aku adalah lelaki yang terbiasa hidup dan mengambil keputusan sendiri sepanjang hidup.

Malam pertama kami tidak melakukan layaknya seperti pengantin baru. Kami hanya memadu kasih, berciuman dan berpelukan dengan mesra hingga tertidur.

Keesokan harinya kami bertolak ke Bali. Menginap di salah satu hotel mewah di sekitar Kute. Kami menghabiskan hari berjalan mengelilingi beberapa tempat wisata.

Malam menjelang, kami seperti muda mudi yang tidak sabar menunggu moment di peraduan. Malam itu Ibu Heni mengenakan lingerie merah darah yang seksi. Tubuhnya yang besar tinggi dan indah membuatku mabuk kepayang. Bacaan sex top: Cerita Dewasa Anak Gelandangan Yang Masih Perawan

Percumbuan kami berlangsung romantis dan panas, kami seperti tidak membiarkan sedetikpun berlalu tanpa sentuhan dan ciuman penuh gairah. Aku membiarkan diriku menjadi budak pemuja kecantikanya.

Dan persetubuhan kami berlangsung berkali-kali sepanjang malam.Dunia serasa hanya milik kami berdua. Setiap saat keperkasaanku menyentuh kewanitaanya Ibu Heni membalasnya dengan rintihan dan pelukan penuh kasih. Berkali-kali beliau membisikan kalimat cinta di telingaku setiap kali aku menghantarnya pada puncak kenikmatan.

Satu tahun berlalu, Ibu Heni telah memberiku bayi perempuan mungil yang cantik. Wanita ini begitu sabar menghadapiku, bukan hanya soal karakterku tapi juga perihal kebinalan darah mudaku di dalam kamar.

Kisah mbak Lilis telah pula usai, wanita itu kembali menghilang semenjak sebulan setelah kami menikah. Mungkin dia tidak ingin menggangguku lagi, ada terbesit rasa kehilangan dalam hati. Bagaimanapun wanita itu pernah begitu hangat menemani..

Bersama istri dan bayi lucu ini petualangan hidupku akan berakhir hingga ajal memanggil. Jepara I am in love. - Situs dewasa sex online terlengkap, novel sex terupdate, novel sex dewasa, novel xxx terbaru, novel cerita hot, novel cerita bokep, novel cerita porno, novel mesum, novel abg ml, novel tante selingkuh, novel janda hypersex, novel sex terpanas, novel perawan suka bugil.



Cerita Sex / Cerita Dewasa / Cerita Mesum / Cerita Panas / Cerita Porno / Cerita Bokep / Cerita Sex Tante / Cerita Sex ABG / Cerita Sex Janda / Cerita Sex Perawan / Cerita HOT / Kisah Sex / Sex Bergambar / Foto Seks