Cerita Dewasa IGO Terbaru Memek Crispy Majikan Seksi

Posted on
VIMAX ASLI
Cerita Dewasa IGO Terbaru Memek Crispy Majikan Seksi – Cerita ngentot terhot, Sebelumnya kisah sex yang pernah saya publish ialah Cerita Dewasa Terbaru 2016 Tante Bispak HOT AbisCerita
sex terbaru, novel sex terlengkap, cerita dewasa terupdate, cerita
mesum terbaik, cerita ngentot terpopuler, cerita bokep terselubung,
cerita xxx terhot, cerita ml abg perawan, cerita porno janda binal
| Aku benar-benar lemas mendengar keputusan pihak manajemen perusahaan
hari ini. Bulan lalu perusahaan sudah menyampaikan rencananya untuk
mengurangi sejumlah karyawan, termasuk pengemudi. Hari ini aku tahu aku
termasuk yg kena PHK. Istriku tak banyak bicara ketika kutunjukkan surat
pemutusan hubungan kerja itu. Ia hanya memandangi bayi kami yg baru
berusia tiga bulan. Terbayang di benak kami bagaimana cara menghidupi
bayi ini tanpa pekerjaan. Pesangon yg tak seberapa jumlahnya pasti tak
akan bertahan lama.

 Cerita Sex Terbaru 2016 Memek Crispy Majikan Seksi IGO
 

Cerita, Dewasa, IGO, Terbaru, Memek, Crispy, Majikan, Seksi, cerita sex 2016, cerita dewasa igo, cerita semi tante, cerita panas terhot, kumpulan cerita bokep terbaru 2016
Ilustrasi Foto Syur Tante Muda IGO HOT Seksi

Novel Seks – Selama seminggu penuh aku menyibukkan diri dengan
iklan lowongan pekerjaan di koran dan mendatangi berbagai macam
perusahaan untuk mencari kerja. Hasilnya nihil. Untungnya sorenya
istriku membawa kabar gembira. Pak Ahmad, lelaki tua yg tinggal tak jauh
dari rumah kami kena stroke. Ia harus istirahat total dan berhenti
menyupir untuk majikannya. Kata istriku, majikan pak Ahmad butuh supir
baru segera. Istriku mengangsurkan secarik kertas bertuliskan nama dan
alamat majikan Pak Ahmad.

Kumpulan cerita dewasa, cerita dewasa 2016, cerita dewasa terbaru, cerita dewasa igo, cerita dewasa igo terbaru, cerita dewasa igo bugil, cerita dewasa igo 2016.

Esok paginya aku langsung meluncur ke rumah Pak Lee, mantan majikan Pak
Ahmad. Rumah Pak Lee luar biasa besar dan mewah. Pembantu Pak Lee
membukakan pintu gerbang dan mempersilakan aku menunggu di beranda.
Sejenak kemudian Pak Lee menemuiku. Ia seorang lelaki Cina tua, bos
sebuah perusahaan peralatan masak di Surabaya.

“Kamu tetangga Pak Ahmad?” Tanya Pak Lee.
“Benar, Pak. Nama saya Ridwan”
“Kamu kelihatan muda sekali. Berapa usiamu?” Tanya Pak Lee.
“24tahun, Pak”
“Sudah lama jadi supir?”
“3 tahun, Pak”
“Oke, Ridwan. Langsung saja. Kamu akan menjadi supir pribadi istri saya.
Istri saya adalah Area Manager perusahaan. Ia harus banyak berkeliling
ke cabang-cabang perusahaan di kota-kota lain di Jawa Timur dan di
Indonesia,” jelas Pak Lee.
“Gaji 3 bulan pertama Rp 1,2 juta. Setuju?”
“Setuju, Pak”
“Kamu mulai kerja hari ini!” kata Pak Lee.

Seminggu sudah aku menjadi supir Nyonya Tan. Dari karyawan kantor, aku
tahu nama Nyonya Tan adalah Lia, sebuah nama yg elok. Di kantor, para
karyawan demikian segan dan hormat padanya, dan tak pernah ada yg bicara
buruk tentang perempuan luar biasa ini. Di mobil, ketika tak sedang
menelepon, Bu Lia tak banyak bicara. Seperti pagi ini dalam perjalanan
ke Malang, menuju ke kantor cabang. Ia hanya bicara beberapa patah kata
bilamana aku terlalu cepat atau terlalu pelan mengemudi.

Kami sampai di Malang sebelum tengah hari. Bu Lia langsung memimpin
rapat para karyawan. Aku sendiri langsung menuju warung makan di depan
kantor. Setelah 3 jam menunggu, perutku mulas. Pasti itu karena sambal
pecel lele yg kumakan di warung tadi. Aku mencari WC. Kata karyawan
kantor, WC supir ada di bagian belakang. Aku segera menyelinap ke
belakang mencari WC yg dimaksud, melewati lorong-lorong sempit tumpukan
stok barang perusahaan.

Setelah selesai dengan urusanku di kamar kecil, aku bermaksud kembali ke
depan melewati lorong-lorong sempit itu. Dinding salah satu lorong itu
ternyata adalah kaca salah satu ruang kantor. Tirai dinding kaca itu
terbuka sedikit, dan tak sengaja dari celah kecil itu aku melihat sebuah
adegan seru, yg sudah pasti bukan kegiatan kantoran pada umumnya.
Seorang lelaki muda sedang asyik memeluk, mencium dan dengan lidahnya
menelusuri dada perempuan yg aku kenal betul, yakni Bu Lia. di atas
sebuah sofa di ruang kantor kepala pemasaran cabang Malang.

Bagian atas blus Bu Lia terbuka lebar, menampakkan dadanya yg penuh di
balik BH yg terurai sebelah. Bu Lia tampak begitu menikmati itu.
Kepalanya terdongak dengan mata terpejam bibirnya terbuka. Kalau tak ada
dinding kaca ini, aku pasti bisa mendengar desah-desah nikmatnya. Aku
terpaku menikmati adegan kecil di celah sempit itu. Tak sengaja lututku
menyentuh tumpukan stok barang pecah belah. Setumpuk piring jatuh
berhamburan, menimbulkan suara yg pasti terdengar dari dalam ruangan.
Kulihat aksi Bu Lia dan lelaki itu terhenti seketika. Aku lari menjauh,
tak perlu repot-repot menata ulang piring-piring yg berserakan.

Satu jam kemudian Bu Lia keluar dari kantor dan minta balik ke Surabaya.
Aku tak berani banyak bicara dalam mobil. Bu Lia juga tdk, tapi ia
kelihatan santai sekali. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah ia tahu
aku mengintipnya tadi. Dua puluh menit kemudian, masih dalam perjalaan
balik ke Surabaya, ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Ridwan, berapa umurmu?” Tanya Bu Lia tiba-tiba.
“24 tahun, bu”
“Sudah menikah?”
“Sudah, Bu. Saya punya bayi usia 3 bulan”

Tiba-tiba Bu Lia melemparkan satu amplop tebal ke kursi di sebelahku.
Sejumlah lembaran seratus ribuan tampak dari ujung amplop yg terbuka.

“Itu untuk kamu dan anakmu. 5 juta rupiah!” kata Bu Lia.
“Untuk saya?” tanyaku heran.
“Ya, untuk kamu,” tegas Bu Lia.
“Wah, untuk apa ini, ya, bu?” tanyaku tak mengerti.

Aku melihatnya dari kaca spion. Bisa kulihat Bu Lia tersenyum dari kaca itu.

“Ini uang tutup mulut. Aku tahu kamu mengintip aku sedang bermesraan
dengan Alex tadi. Tdk boleh ada yg tahu ini. Kalau Pak Lee tahu, itu
berarti dari kamu. Dan kau pasti akan kehilangan pekerjaan. Kunci
mulutmu dengan uang 5 juta itu, dan kau tetap bisa bekerja. Faham?” ujar
Bu Lia tegas.

Aku terdiam sejenak. Kuberanikan bicara,

“Ibu tdk perlu memberi saya uang itu. Saya akan tutup mulut. Ibu bisa pegang kata-kata saya”
“Tdk! Ambil saja! Dan jangan bicara lagi!” itulah kalimat terakhir bu Lia. Selebihnya, ia tdk bicara lagi.

Besoknya aku menyetorkan uang ke tabunganku tanpabilang-bilang istriku.
Dan selanjutnya, aku menutup mulut rapat-rapat. Hari-hari berjalan
seperti biasa, tak banyak yg berubah. Yg sedikit berubah adalah suasana
di dalam mobil. Belakangan ini Bu Lia kerap kali bergeser tempat duduk.
Kalau biasanya ia duduk tepat di belakangku, kali ini ia lebih sering
bergeser ke kiri. Ia acap kali mencuri pandang ke arahku dari duduknya
di mobil. Entah kenapa ia begitu. Yg jelas aku tak pernah berani
menatapnya dari balik spion.

Pagi ini aku mengantar Bu Lia ke bandara Juanda. Ia akan bertugas
memeriksa cabang Bali selama seminggu. Jadi, selama seminggu ini aku
akan stand-by di kantor Pak Lee sebagai sopir cadangan. Tapi selepas
siang sebuah sms masuk ke HP-ku. Itu dari Bu Lia. Bunyinya, : Sopir
cabang Bali sakit. Kamu ke Bali siang ini. Sudah saya kirim uang buat
beli tiket pesawat. Kamu langsung ke kantor Cabang Denpasar”.

Segera aku mendapatkan uang tiket dan alamat kantor Cabang Denpasar dari
kantor Surabaya. Senang juga rasanya naik pesawat untuk pertama
kalinya. 4 jam kemudian aku sudah berada di Kantor Cabang Denpasar.

“Saya lebih nyaman kalau kamu yg nyupir,” kata Bu Lia begitu duduk di kursi belakang di mobil Cabang Denpasar.
“Kamu banyak tahu jalan-jalan di Denpasar, kan?” tanya Bu Lia.
“Ya, Bu. Saya menempuh SMA saya di sini,” kataku.
“Baiklah, langsung ke Hotel Santika Kuta Beach,” perintah Bu Lia.

Setelah check-in di hotel, aku sempat membawakan barang ke kamar Bu Lia, sebuah kamar cottage tepat di pinggir pantai Kuta.

“Ini uang buat cari hotel kecil di sekitar sini. Mobil kamu bawa.
HP-kamu mesti stand-by. Kalau saya perlu keluar, saya akan telepon,”
kata bu Lia.
“Baik, bu!”

Aku mendapatkan hotel kecil tak jauh dari Santika Kuta Beach. Jam tujuh
malam kurang sedikit, sehabis mRidwan, dan mengenakan t-shirt, teleponku
bergetar. Bu Lia kirim SMS.

“Charger saya ketinggalan di mobil. Bisa kau antar ke hotel?” demikian bunyi SMS itu.

Aku segera beranjak. Ketika sampai di hotel, SMS Bu Lia datang lagi,

“Kamu sudah sampai hotel? Bisa langsung antar charger ke kamar saya?”

Dengan charger di tangan, aku bergerak ke bagian belakang hotel dan
mencari cottage bu Lia. Di malam hari suasana cottage itu syahdu benar,
dengan tanaman rindang, lampu redup di seputaran cottage dan deburan
ombak laut tak jauh dari cottage. Aku mengetuk pintu cottage.

“Masuk saja, tdk dikunci!” terdengar suara Bu Lia. Aku tak berani langsung masuk. Ragu aku berdiri di depan pintu.
“Masuk, Ridwan!” suara Bu Lia agak meninggi, setengah memerintah.

Aku mendorong pintu. Bu Lia berdiri di dekat jendela yg menghadap ke
pantai dengan segelas soft-drink dengan rambut terurai dan senyum manis.
Berdebar aku melihatnya. Tank-top merah ketat yg dikenakan membiarkan
lekuk-lekuk dadanya terlihat jelas. Belahan dada yg indah itupun tdk
tersembunyikan. Aku menatap kakinya yg jenjang. Shorts putih yg teramat
pendek itu menyajikan sepasang paha mulus yg kencang.

“Ini chargernya, Bu Lia. Saya taruh sini, ya!” kataku gugup.

Bu Lia berjalan menghampiriku. Ya ampun! Cara berjalan itu, demikian menggetarkan dada. Seksi nian orang satu ini.

“Kamu kelihatan gugup,” ujar Bu Lia tenang, menatapku dengan pandangan penuh.

Tak pernah ia memandangku sedemikian rupa sebelumnya.

“Lihat sekeliling. Sebuah kamar yg nyaman dengan lampu redup, dan suara
debur ombak. Sempurna sekali, bukan?” kata Bu Lia dalam kerlingnya.

Aroma farfum mahal itu menyergap hidungku. Aku tak tahu Bu Lia bicara apa, tapi aku menjawabnya.

“Ya, benar. Sempurna,” kataku. Aku mundur beberapa langkah. Bu Lia makin dekat ke arahku.
“Apa yg kau pikirkan sekarang?” tanya Bu Lia. Wajahnya tak jauh dari wajahku,
“Saya….eh…saya, harus segera balik. Saya tdk ingin mengganggu kesempurnaan suasana ini,” kataku.
“Begitu?” kata Bu Lia pelan, meletakkan gelas di meja di sebelahnya.
“Kalau begitu, balikkan badan dan tutup pintu itu,” katanya kemudian.

Aku menuruti perintahnya. Aku membalikkan badan, dan menutup pintu.

“Tdk, begitu, Ridwan. Tutup dari dalam, bukan dari luar!” ujar Bu Lia.

Aku terkejut.

“Dari dalam? Maksud Ibu?””
“Ya, dari dalam. Dan kau tetap di sini. Kita cuma berdua di kamar yg
romantis ini. Tdk bisakah kau lihat ranjang itu? Tdk kah kau tahu kenapa
aku memanggilmu ke sini? Tdk bisakah kau lihat betapa aku
menginginkanmu?”

Aku diam terpaku. Tapi ada benda yg mulai terasa mekar di
selangkanganku. Bu Lia mendekatiku dan mengalungkan kedua tangannya ke
leherku.

“Pangil aku Lia saja. Bawa aku ke ranjang itu. Aku ingin kamu cumbui
aku. Bercintalah denganku. Aku pingin sekali!” Belum sempat aku
mengucapkan sepatah kata.

Bibir Lia telah mendarat di bibirku. Dilumatnya aku dengan rakus dan
beringas. Entah kenapa aku tak lagi ragu. Kubalas lumatan bibir itu
dengan tak kalah beringas. Sungguh manis dan segar bibir itu. Lia segera
melepas kaosku dan melepas tank-topnya sendiri, membiarkan dada
indahnya telanjang. Aku segera menyergap dada indah itu. Kukulum dan
kuhisap habis-habisan puting susu Lia.

Aku yakin itu yg ia suka dan ia mau sekarang. Dan aku benar. Ia
mengerang dan mendesah dan membiarku aku mengeksplorasi dada dan
lehernya dengan bibir dan lidahku. Kukulum lembut puting merah jambu itu
dan kurema-remas dengan ritme yg embut pula. Tubuh Lia bergetar hebat.
Dengan ciuman bertubi-tubi dan dorongan dadanya pula, ia menggerakkan
aku ke arah ranjang dan menindihku dengan gencar, masih dengan ciumannya
yg makin beringas.

“Susuku. Aku mau kau hisap putingku lagi. Telusuri sekujur dadaku. Buat aku nikmat. Buat aku melayg, Ridwan!”
“Kau akan dapatkan yg kau mau, Lia” kataku tersengal.

Kuberi Lia jilatan-jilatan rakus di puting dan seputaran susunya. Ia
membalasanya dengan gerakan yg sangat terlatih dan terampil. Dibalasnya
aku dengan menghisap dan menggigit kecil putingku. Dan debur ombak
pantai Kuta seperti mendadak membimbing Lia untuk memintaku melepaskan
celana pendek yg dikenakan itu, dan ia tak sabar membantu aku melepaskan
celana jeansku.

“Lepas celanaku, Ridwan. Lepas dan beri aku kejantananmu,” Lia mendesah ketika mulai kuraih celana itu untuk kulorotkan.

Tempik indah dan manis perempuan Cina itu menyembul dengan kerumunan rambut halus yg menyemut di sekitarnya.

“Kamu mau aku menggeraygi ini dengan lidahku?” tanyaku.
“Itu yg aku mau. Do it!” kata Lia.

Ia membantu dirinya sendiri terlentang dan meraih kepalaku. Kubenamkan
wajahku di tempik Lia dan kumainkan lidahku, merangsek sedalam mungkin
ke seantero memek yg basah dan lapar itu. Yeni merintih, mengerang,
mendesah dan mengaduh nikmat.

“Ohhhh! ooouhhhh! Ouuuhhhh, Ridwaniiii! That’s good. Terussss. Terusss.
Ouuuh!” Lia terus mengerang di antara debur ombak pantai.

Sejenak kemudian, ia mengangkat kepala dan meraih k0ntolku.

“Sekarang kau harus merasakan balasanku,” seloroh Lia.

Ia menelan bulat-bulan k0ntolku dan mengulumnya penuh nikmat. Iapun
menarik k0ntolku maju mundur mulai dari kecepatan rendah, sedang dan
kecepatan tinggi dengan jepitan mulutnya. Aku terengah-engah dibuatnya.
Sungguh ahli perempuan ini memberikan kenikmatan pada k0ntolku.
Benar-benar mabuk aku dibuatnya.

Tak sabar lagi aku. Libidoku sudah naik ke ubun-ubun. Aku menindihnya,
menyerang susunya sekali lagi dan membuat Lia menggelinjang liar di
tempat tidur itu. Lia lebih tak sabar lagi. Ia membetot k0ntolku dan
membantuku mencari tempik basahnya.

“Senangkan aku, bahagiakan aku, Ridwan. Aku mau kamu sejak pertama aku melihat kamu!
“Kamu terlalu banyak meminta, Lia,” kataku.

Kubenamkan k0ntolku ke dalam memeknya yg basah menantang. Kupompa dengan
penuh kelembutan dengan gerakan yg kusesuaikan dengan debar nafas Lia.
Kubiarkan k0ntolku mencari titik-titik nikmat di memek Cina seksi ini.
Kuberi ia bonus gigitan-gigitan kecil di puting dan sekujur susunya. Ini
membuat Lia senang bukan main. Tak bisa kujelaskan rintihan, desahan
dan erangan Lia. Bacaan sex top: Cerita Dewasa Ternyata Pembantuku Masih Perawan

Aku dan Lia bercinta semalam suntuk. Lia hanya memberiku istirahat
sejenak sebelum ia mulai menyerang aku lagi. Ia punya banyak teknik
permainan yg membuatku terperangah. Dan ia selalu meminta, meminta dan
meminta. Ini membuat aku harus mengimbanginya terus, berapa kalipun ia
memintanya.

Kami berada di Bali seminggu penuh. Lia pintar bikin alasan untuk tdk
perlu datang ke kantor cabang. Ia hanya mau aku mencumbunya terus dan
terus tiada habis. Pada malam terakhir sebelum balik ke Surabaya, aku
dan Lia bercinta di dalam sleeping-bag selepas tengah malam di pantai yg
sunyi.

Begitu balik ke Surabaya, Lia terus minta aku memuaskannya : di kamar
rumahnya ketika Pak Lee dan seisi rumah sedang keluar, dan di mana saja.
Kami pergi ke hotel di Malang, Jogja, Madiun, Jakarta bahkan Singapura.
Sering pula Lia minta aku mencumbunya di dalam mobil dan dimana saja ia
menjadi horny. Aku tak tahu kapan ini akan berhenti. Sepertinya Lia tak
akan pernah ingin untuk mengakhiri ini semua. – Situs dewasa sex online terlengkap, novel sex terupdate, novel sex
dewasa, novel xxx terbaru, novel cerita hot, novel cerita bokep, novel
cerita porno, novel mesum, novel abg ml, novel tante selingkuh, novel
janda hypersex, novel sex terpanas, novel perawan suka bugil.

Cerita
Sex / Cerita Dewasa / Cerita Mesum / Cerita Panas / Cerita Porno /
Cerita Bokep / Cerita Sex Tante / Cerita Sex ABG / Cerita Sex Janda /
Cerita Sex Perawan / Cerita HOT / Kisah Sex / Sex Bergambar / Foto Seks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *