Cerita Dewasa Perawan Rakus Pada Anak Tiri

Posted on

Cerita Dewasa Perawan Rakus Pada Anak Tiri – Cerita ngentot terhot, Sebelumnya kisah sex yang pernah saya publish ialah Cerita Dewasa Berpetualang Mencari Perawan LuguCerita
sex terbaru, novel sex terlengkap, cerita dewasa terupdate, cerita
mesum terbaik, cerita ngentot terpopuler, cerita bokep terselubung,
cerita xxx terhot, cerita ml abg perawan, cerita porno janda binal
| Cewek yang bernama Maria menginjak usia puber yang mana nasibnya sungguh
tidak mengenakan dia tinggal bersama ibu dan ayah tirinya, dia
ditinggal oleh ayah kandungnya sejak usia SD, dan kisah ini menceritakan
ayah tiri yang rakus akan perawan gadis Maria tersebut, setap kali dia
melihat tubuh Maria selalu menelan ludah karena pinggung dan payudaranya
selalu untuk mengajak menikmati, apalagi bila Maria sedang berjongkok
mengepel lantai dengan pakaian seadanya, wah, Daud melotot matanya.

Cerita Sex Perawan Cantik Terseksi 2016 Rakus Pada Anak Tiri

Cerita, Dewasa, Perawan, Rakus, Pada, Anak, Tiri, Cerita Sex Perawan, ngentu perawan, tempek perawan, perawan ngesex, perawan dientot, kentu perawan, perawan kentu, perawan hot, cerita perawan, cerita sex terbaru, cerita dewasa, cerita mesum terbaru, cerita sex mesum, cerita mesum 18, cerita mesum baru, cerita mesum terkini, cerita mesum 17, cerita mesum terhot, koleksi cerita mesum, mesum cerita, kumpulan cerita mesum bergambar, galeri cerita mesum, cerita mesum paling panas, cerita mesum dan fotonya
Ilustrasi Foto Syur IGO Termewah 2017

Novel Seks – Timbullah hasratnya untuk menyaksikan tubuh sang anak tiri yang indah
polos tanpa pakaian. Daud mendapat akal, suatu hari ketika Maria dan
ibunya sedang keluar rumah, Daud bekerja keras membuat lubang di dinding
kamar mandi yang hanya terbuat dari papan.

Kumpulan cerita dewasa, cerita dewasa 2016, cerita dewasa terbaru, cerita dewasa igo, cerita dewasa igo terbaru, cerita dewasa igo bugil, cerita dewasa igo 2016

Suatu hari ketika Maria hendak pergi mandi Daud bersiap menunggu sambil
mengintip dari lubang kamar mandi yang telah dibuatnya, Maria memasuki
kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk melilit di tubuhnya, setelah
mengunci pintu kamar mandi dengan tanpa ragu Maria melepaskan handuknya,

Koleksi Cerita Panas Terbaru 2017, Daud menelan liurnya menyaksikan pemandangan indah yang terpampang di
depan matanya, pemandangan indah yang berasal dari tubuh indah anak
tirinya, tubuh yang begitu sekal padat, ramping dan mulus itu membuat
gairah Daud bergejolak, apalagi sepasang payudara yang begitu mulus
dengan sepasang puting susu berwarna merah jambu menghias indah di
puncak payudara yang sekal itu

Mata Daud melirik ke arah selangkangan gadis itu tampak bulu-bulu halus
indah menghias di sekitar belahan kemaluan perawan itu yang membukit
rapat. Semua itu membuat dada Daud bergetar menahan nafsu, membuatnya
semakin penasaran ingin menikmati keindahan yang sedang terpampang di
depan matanya. Daud tahu Maria sering keluar dari kamarnya pada malam
hari untuk pipis.

Pada malam berikutnya, Daud dengan sabar menunggu. Begitu Maria memasuki
kamar mandi, Daud membarenginya dengan memasuki kamar Maria. Daud
menunggu dengan jantung berdebar keras, begitu Maria masuk kembali ke
dalam kamarnya dan mengunci pintu Daud muncul dari balik lemari, Maria
terbelalak, mulutnya menganga, buru-buru Daud meletakkan telunjuk ke
mulutnya, isyarat agar Maria jangan berteriak, Maria mundur beberapa
langkah dengan ketakutan.

Daud maju dan tiba-tiba menyergapnya Maria siap menjerit, tetapi Daud dengan cepat menutup mulutnya.

“Jangan menjerit!”, Daud mengancam. Maria semakin ketakutan, badannya
gemetar. Daud memeluk gadis yang masih murni itu, menciumi bibirnya
bertubi-tubi. Maria terengah-engah. “Jangan takut, nanti kuberi uang”,
kata Daud dengan nafas menggebu-gebu.

Bibir Maria terus diciumi, gadis itu memejamkan matanya, merasakan
nikmat, dengan mulut terbuka. Tanpa sadar, rontaan Maria mulai melemah,
bahkan kedua lengannya memanggut bahu Daud. Sekilas terbayang adegan di
buku porno yang pernah dilihatnya.

Alangkah gembiranya Daud ketika Maria mulai membalas ciuman-ciumanya
dengan tak kalah gencarnya. “Pak, Pak jangan..!”, Walaupun mulutnya
berkata jangan, tetapi Maria tidak mengadakan perlawanan ketika gaunnya
di lepas.

Dalam sekejap, Maria hanya mengenakan beha dan celana dalam saja, itupun
tidak bertahan lama. Daud mencopoti bajunya sendiri. Maria menghambur
ke tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut,

Maria menghadap tembok, menunggu dengan dada bergetar, di hatinya
terjadi pertentangan antara nafsu dan keinginan untuk mempertahankan
kehormatannya, namun nafsulah yang menang. Selimut yang menutupi tubuh
ditarik, Maria dipeluk dari belakang dan dirasakannya hangatnya pisang
ambon Daud mengganjal dan menggesek-gesek di belahan pantatnya, Maria
menggigil.

Dengan bernafsu Daud menciumi kuduk Maria, gadis itu
menggelinjang-gelinjang, rasa nikmat menyelusup ke pori-porinya. Daud
membalikkan tubuh Maria hingga telentang, gadis itu meronta hendak
melepaskan diri,

menindihnya, tangannya meraba-raba bongkahan buah dada Maria. Dada yang
ranum dan sehat, yang selama beberapa hari ini mengisi khayalan Daud.
Kembali rontaan-rontaan Maria melemah, dirasakannya kenikmatan pada buah
dadanya, yang diciumi Daud dengan berganti-gantian. Dada yang kenyal
dan masih segar itu bergetar-getar, Daud membuka mulutnya dan melahap
putingnya yang merah jambu. Maria menjerit lirih, tetapi segera
tenggelam dalam erangan kenikmatan. “Pak, mm.., mm.., ja..ngan sshh
mmphh.., sshh..”.

Akhirnya Maria tidak lagi memberontak, dibiarkannya payudara kiri dan
kanannya dijilati dan dihisap oleh Daud. Aroma harum yang terpancar dari
tubuh perawan itu benar-benar menyegarkan, membuat rangsangan birahi
Daud semakin naik. Kedua bukit indah Maria semakin mengeras dan
membesar, puting yang belum pernah dihisap mulut bayi itu kian indah
menawan, Daud terus mengulum dan mengulumnya terus.

“Pak, Saya.., takuut”, Suara Maria mendesah lembut.

“Jangan takut, tidak apa-apa nanti kuberi uang..”, dengan napas memburu.

“Ibu, pak. Nanti ibu bangun.., sshh.., aah..”.

“aakh.., ibumu tidak akan bangun sampai besok pagi, ia sudah kuberi obat tidur”.

Maria mulai mendesah lebih bergairah ketika tangan Daud mulai bermain di
bukit kemaluannya yang membengkak. Daud menekan-nekan bukit indah itu.
“Kue apemmu hebat sekali”, bisik Daud sambil berkali-kali meneguk air
liurnya, tangan Daud menguak belahan kue apem itu.

Maria yang semula mengatupkan pahanya rapat-rapat kini mulai
mengendurkannya, bagaimana tidak? Sentuhan-sentuhan tangan Daud yang
romantis mendatangkan rasa nikmat bukan kepalang apalagi batang kemaluan
lelaki yang tegak itu, menggesek-gesek hangat di paha Maria dan
berdenyut-denyut. Sebenarnya Maria ingin sekali menggenggam batang
kemaluan yang besarnya luar biasa itu.

Sementara itu Daud menggosok-gosokkan tangannya ke bukit kemaluan yang
ditumbuhi rambut halus yang baru merintis indah menghiasi bukit itu.
“Sssh.., mmh.., ssh.., aakh..”, Mata Maria membeliak-beliak dan
pahanyapun membuka. Daud menggesek-gesekkan kepala penisnya di bibir
vagina Maria yang masih rapat walau sudah dikangkangkan.

Secara naluriah Maria menggenggam batang penis Daud, ia merasa jengah,
keduanya saling berpandangan, Maria malu sekali dan akan menarik kembali
tangannya tetapi dicegah oleh Daud, sambil tersenyum, lelaki yang cukup
ganteng itu berkata,

“Tidak apa-apa, Maria! Genggamlah sayang, berbuatlah sesuka hatimu!”.
Dan dengan dada berdegup Maria tetap menggenggam batang penis yang keras
itu. Daud merem-melek menikmati belaian dan remasan lembut pada batang
penisnya.

Sementara itu tangan Daud mulai menjelajahi bagian dalam kemaluan Maria,
gadis itu menjerit kecil berkali-kali. Bagian dalam kemaluannya telah
basah dan licin, ujung jari Daud menyentuh-nyentuh clitoris Maria. Maria
menggelinjang-gelinjang.

“Bagaimana Mar?”, tanya Daud.

“Enaakh.., Paak!”, Jawab Maria.

Daud semangkin gencar menggempur vagina Maria dengan jari tangannya.
Lalu Daud menundukkan kepalanya ke arah selangkangan Maria.
Dipandanginya belahan vagina yang begitu indahnya, menampakkan bagian
dalamnya yang kemerahan dan licin.

Daud menguakkan bibir-bibir kemaluan itu, maka kelihatanlah clitorisnya,
mengintip dari balik bibir-bibir kemaluan Maria, Daud tidak dapat
menahan dirinya lagi, diciumnya clitoris Maria dengan penuh nafsu. Maria
menjerit kecil.

“Kenapa Maria? Sakit?”, tanya Daud di sela kesibukannya.

Mariana menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kakinya. Dengan
bernafsu Daud menjilati vagina Maria dan lidahnya menerobos menjilati
bagian dalam dari kemaluan Maria, melilit dan membelai clitorisnya.

Maria semakin tidak tahan menerima gempuran lidah Daud, tiba-tiba
dirasakannya dinding bagian dalam kemaluannya berdenyut-denyut serta
seluruh tubuhnya terasa menegang dan bersamaan dengan itu ia merasakan
sesuatu seperti akan menyembur dari bagian kemaluannya yang paling
dalam.

“aakh.., uuggh.., Paakk..”, Maria mendesah seiring menyemburnya air mani
dari dasar lubuk kemaluannya. Sementara Daud tetap menjilati kemaluan
Maria bahkan Daud menghisap cairan yang licin dan kental yang menyembur
dari kemaluan Maria yang masih suci itu, dan menelannya.

“Sungguh nikmat air manimu Mar”, bisik Daud mesra di telinga Maria.
Sementara Maria memandang memelas ke arah Daud, dan Daud mengerti apa
yang diingini gadis itu, karena iapun sudah tidak tahan seperti Maria.
Batang kemaluan Daud sudah keras sekali. Besar dan sangat panjang.

Sedangkan bukit kemaluan Maria sudah berdenyut-denyut ingin sekali
dimasuki penis Daud yang besar. Maka Daudpun mengatur posisinya di atas
tubuh Maria. Mata Maria terpejam, menantikan saat-saat mendebarkan itu.

Batang penis Daud mulai menggesek dari sudut ke sudut, menyentuh
clitoris Maria. Maria memeluk dan membalas mencium bibir ayah tirinya
bertubi-tubi. Dan akhirnya topi baja Daud mulai mencapai mulut lubang
kemaluan Maria yang masih liat dan sempit. Dan Daudpun menekan
pantatnya. Maria menjerit. Bagaikan kesetanan ia memeluk dengan kuat.
Tubuhnya menggigil.

“Paak, oukh.., akh.., aakh.., oough.., sakit Pak..”, Maria
merintih-rintih, pecahlah sudah selaput daranya. Sedangkan Daud tidak
menghiraukanya ia terus saja menyodokkan seluruh batang kemaluannya
dengan perlahan dan menariknya dengan perlahan pula, ini dilakukannya
berulang kali.

Sementara Maria mulai merasakan kenikmatan yang tiada duanya yang pernah dirasakannya.

“Goyangkan pinggulmu ke kanan dan ke kiri sayang!”, bisik Daud sambil tetap menurun-naikkan pantatnya.

“Eeegh.., yaa.., aakkhh.., oough..”, jawab Maria dengan mendesah. Kini
Maria menggoyangkan pinggulnya menuruti perintah ayahnya. Dirasakannya
kenikmatan yang luar biasa pada dinding-dinding kemaluannya ketika
batang penis Daud mengaduk-aduk lubang vaginanya.

“Tee.., russ.., Paak.., eeggh.., nikmat.., oough..!”, erang Maria. Daud
semakin gencar menyodok-nyodok vagina Maria, semakin cepat pula goyangan
pinggul Maria mengimbanginya hingga,

“Ouughh.., sa.., saya.., mmaau.., keluar.., Paak..”.

“Tahan.., sebentar.., sayang.., oouggh..”.

Daud mulai mengejang, diapun hampir mencapai klimaksmya. “aaGhh..”,
jerit Maria sambil menekan pantat Daud dengan kedua kakinya ketika ia
mencapai puncak kenikmatannya. Bersamaan dengan tekanan kaki Maria Daud
menyodokkan penisnya sedalam-dalamnya sambil menggeram kenikmatan,

“Eeegghh.., Ooouugh..”. “Creet.., creet.., creet..”. Mengalirlah air
mani Daud membasahi lubang kemaluan Maria yang sudah dibanjiri oleh air
mani Maria. Merekapun mencapai puncak kenikmatannya.

Keduanya terkulai lemas tak berdaya dalam kenikmatan yang luar biasa
dengan posisi tubuh Daud masih menindih Maria dan batang penisnya masih
menancap dalam lubang kemaluan Maria.

Enam bulan kemudian, Maria dan Ria meninggalkan kota kecilnya. Mereka
ikut Om Mamat ke Jakarta. Om Mamat belum lama mereka kenal, tetapi
mereka tidak peduli, mereka menginginkan hidup lebih baik ketimbang di
kota kecilnya sendiri.

Mereka tahu nasib apa yang bakal mereka terima di Jakarta nanti,
diserahkan pada seorang germo yang namanya Tante Yeyet. Mereka pergi
ikut Om Mamat tanpa sepengetahuan orang tua mereka masing-masing.

Om Mamat menunggu mereka di stasion kereta api. Dari sanalah baru mereka
bersama-sama menuju Jakarta. Ria berani ikut dengan Om Mamat ke Jakarta
karena dia juga sudah tidak perawan lagi. Bukit kemaluannya sudah
ditoblos oleh Pandy.

Pandy adalah pria yang sangat berpengalaman dengan wanita. Pandy pandai
merayu. Dan Mariapun tergelincir dalam rayuannya dan berhasil digagahi
Pandy, ia merupakan orang kedua yang pernah merasakan nikmatnya vagina
Maria selain ayah tiri Maria.

Sementara kereta berjalan dengan pesatnya. Dalam perjalanan mereka di
malam hari yang selama delapan jam dalam kereta api, Om Mamat tidak
dapat menahan hawa nafsunya berjalan dengan dua orang gadis cantik yang
menggoda.

Dengan sedikit memaksa Om Mamat mencoba untuk menggauli mereka. Pada
waktu itu keadaan kereta yang mereka tumpangi tidak terlalu banyak
penumpangnya sehingga banyaklah kursi yang kosong. Kebetulan deretan
bangku di depan mereka kosong.

Waktu itu lampu penerang gerbong sudah dipadamkan tinggal lampu
remang-remang saja yang masih menyala menerangi keadaan gerbong yang
mereka tumpangi.

“Kalian tentunya sudah berpengalaman dengan laki-laki?”, tanya Om Mamat memulai pembicaraan.

“Belum Om”, jawab Ria dengan malu-malu.

“Sudah berapa kali kamu merasakannya, Ria?”, tanyanya sambil memegang
paha Ria yang hanya mengenakan rok mini dari bahan yang tipis.

“Merasakan apa, Om?”, tanya Ria berpura-pura tak mengerti.

“Merasakan hangatnya batang peler pria memasuki lubang kemaluanmu”, jawab Om Mamat dengan terus terang.

“Saya, saya baru merasakannya sekali Om”, jawab Ria sambil menunduk.

“Tidak usah malu, apakah kamu menikmatinya?”, Om Mamat mulai menebar jaringnya. Ria hanya mengangguk tanpa berkata apapun.

“Sedangkan kamu sudah berapakali kecoblos Mar?”, mengalihkan pertanyaanya pada Maria.
“Dua kali, Om”, jawabnya singkat.

“Syukurlah, jadi kalian sudah punya pengalaman”. Dia berhenti untuk menghisap rokoknya lalu mematikan rokok itu.

“Tapi aku perlu untuk mengetahui sampai di mana kemampuan kalian”, sambungnya sambil menghadap ke arah Ria.

“Bagaimana caranya Om?”.

“Dengan mencobanya langsung”, jawabnya tegas.

“Mencoba langsung, di mana Om?”.

“Di sini saja, toh semua penumpang sudah tidur”.

“Tetapi..”.

“Tenang saja biar Om yang mengaturnya”, potong Om Mamat sambil merangkul
tubuh Ria yang ada di sebelah kanannya, lalu ia mulai menciumi bibir
Ria. Ria terpaksa melayaninya demi lancarnya perjalanan mereka ke
Jakarta.

Setelah beberapa saat lidah mereka saling berpilin, tangan Om Mamat
mulai beraksi menyelinap, meremas payudara Ria melalui bagian bawah kaos
ketat yang dikenakan Ria. Ria menggelinjang menikmati sentuhan tangan
Om Mamat yang sangat lincah meremas payudaranya, apalagi bibir Om Mamat
yang menggerayangi lehernya.

Semakin ganas Om Mamat menikmati bukit indah milik Ria yang putih mulus
itu setelah mengangkat kaos, dan melepas beha Ria. Sedangkan Maria hanya
menatap mereka dengan kosong. Tiba-tiba tangan Om Mamat yang satu
meraih tangan Maria.

Tanpa perlawanan tangan itu ditaruh di atas batang penisnya yang masih
dalam celana. Maria mengerti maksud Om Mamat, dengan segan-segan
dibukanya ikat pinggang Om Mamat lalu diturunkan ritsluitingnya,
dikeluarkannya kemaluan yang sudah digenggamnya dari celana dalamnya.

mmhh..”, desah Om Mamat menikmati remasan tangan halus Maria pada batang
penisnya. Sementara tangan kanan yang bebas menjelajah ke dalam rok
mini Ria, jari tangan kanannya dengan lincahnya mencoba melepaskan
celana dalam yang dikenakan Ria.

Ria mengangkat pantatnya untuk memudahkan Om Mamat melepaskan penutup
belahan vaginanya, Ria mengangkat satu kakinya untuk melepaskan celana
dalamnya yang merosot sampai di mata kaki, bersamaan dengan itu itu
jari-jari Om Mamat menerobos bibir vaginanya, lalu mempermainkan
clitoris yang ada di dalamnya.

Ria gelagapan menahan nikmat yang dirasakannya pada clitorisnya yang
dipilin jari-jari Om Mamat, serta gigitan-gigitan lembut pada puting
susu kanannya serta belaian-belaian yang diselingi remasan nikmat pada
buah dadanya yang kiri.

Sementara Maria tidak lagi meremas batang penis Om Mamat, tetapi dia
menggocok batang penis itu dengan lembut. Pergumulan segitiga itu
berjalan cukup lama hingga Om Mamat tak dapat lagi menahan nafsunya.
“Pindahlah kamu ke bangku itu!” perintahnya pada Ria sambil menunjuk
tempat duduk di seberang tempat duduk mereka.

Ria mengikuti perintah Om Mamat, dia duduk menyadar di tempat yang
ditunjuk Om Mamat. Lalu Om Mamat berdiri menghadap Ria dengan batang
penisnya yang panjang besar dan hitam menunjuk ke arah Ria, ditariknya
kaki Ria hingga posisi gadis itu setengah rebah menyandar, lalu
dikangkangkannya paha Ria hingga tampak olehnya belahan indah yang
dihiasi bulu-bulu lebat dengan bagian dalam yang merah merona, lalu
diarahkannya kepala penisnya yang merah mengkilap memasuki lubang vagina
Ria.

“Ssshh.., aahh..”, desah gadis itu ketika dengan agak susah kepala penis
itu memasuki lubang kemaluannya. Om Mamat sendiri merasakan nikmat luar
biasa ketika kepala kemaluannya terjepit oleh bibir-bibir vagina Ria
yang sempit, hingga ia tak melanjutkan gerakan mendorongnya untuk
menikmati pijitan bibir vagina itu di kepala penisnya. Sedangkan Maria
hanya menyaksikan adegan itu dengan dada bergetar menghayalkan hal itu
terjadi pada dirinya.

Setelah terhenti beberapa kejap, dengan pasti Om Mamat melanjutkan
dorongan pantatnya hingga, “Blueess..”. Seluruh batang kemaluannya
amblas memasuki vagina Ria. Sedangkan Ria mengerang tertahan merasakan
betapa batang kemaluan Om Mamat yang besar menyumpal di dalam lorong
kemaluannya, membuat nafasnya terburu nafsu.

Kenikmatan itu bertambah ketika Om Mamat menarik keluar batang
kemaluannya hingga menimbulkan gesekan yang mengguncang seluruh tubuh
Ria. Om Mamat memepercepat gerakan pantatnya mengeluar-masukkan penisnya
hingga tubuh Ria terhentak-hentak kenikmatan, merasakan betapa
dahsyatnya penis Om Mamat yang besar itu mengobrak-abrik lubang
kemaluannya hingga membuatnya melenguh-lenguh nikmat.

“Ouugh.., eeghh.., te..ruus.., oom.., jaa..ngan.., berhenti.”, desah Ria
tertahan menikmati tarian penis Om Mamat dalam lubang vaginanya yang
semakin basah dan licin hingga mengelurkan suara decak pelan. Semakin
lama gerakan Om Mamat semakin gencar, dan remasannya pada payudara Ria
semakin gemas, ditambah dengan gerakan pinggul Ria yang membuat batang
penis Om Mamat seret keluar masuk, membuat keduanya tak dapat bertahan
lebih lama lagi, hingga.., “Aah.., ahh.., esst.., esst..”, desah Om
Mamat sambil menggerakkan pantatnya dengan cepat.
“Ouugh.., eesstt.., eengh.., aakh.., aakuu.., ti.., tidak.., taahaan..,
laagi.., om..”, erang Ria hampir mencapai puncak orgasmenya.

“Tung..guu.., sayang.., aakku.., juuggaa.., mmau.., ngecret..!”, ucap Om
Mamat terputus-putus sambil menancapkan batang penisnya
sedalam-dalamnya ke dalam vagina Ria.

“aakuu.., kee..keeluar.., Ooom..”.

“Akuu.., juuggaa.., aaghh..”, dan, “Creet.., creet.., crett.”,
tersemburlah cairan nikmat dari batang penis Om Mamat ke dalam vagina
Ria.

Keduanya saling berangkulan mencapai puncak kenikmatan bersama-sama,
cairan kental membanjiri vagina Ria dan membasahi penis Om Mamat.
Sementara ketika Om Mamat dan Ria bertarung, Maria begitu terangsang
melihat permainan mereka hingga tanpa sadar tangannya meremas buah
dadanya dan mengelus-elus bibir kemaluannya dan mendesah-desah seorang
diri, karena dibakar hawa nafsunya sendiri.

Om Mamat dan Ria sama-sama terkulai setelah keduanya mencapai puncak
kenikmatan, sedangkan Maria merasakan denyutan-denyutan dalam liang
vaginanya merindukan sentuhan kemaluan lelaki di dinding-dindingnya,
semakin ia menahan gejolak nafsu itu semakin menggejolak nafsu itu dalam
dadanya, akhirnya ia tak kuasa menahan diri,

Maria bangkit dari duduknya lalu berlutut di hadapan selangkangan Om
Mamat yang bersandar memejamkan mata di bangku sebelahnya, ditatapnya
kemaluan Om Mamat yang menggantung lunglai, dibelainya kemaluan yang
besar itu, walaupun belum tegak berdiri. Semakin lama belaiannya semakin
menggebu lalu diremasnya penis yang mulai bangun perlahan-lahan karena
remasan-remasan jemari lentik Maria.

Om Mamat membuka matanya karena merasakan kegelian yang nikmat pada
batang penisnya, dibiarkannya beberapa saat Maria yang belum tahu bahwa
Om Mamat sudah terjaga, membelai dan meremas batang kemaluannya, Om
Mamat berkata perlahan.

“Kau menginginkannya?”.

“I.., iya Om aa.., aku menginginkan burungmu”, jawab Maria dikuasai oleh
nafsunya. Lalu Om Mamat memegang bahu Maria lalu mengangkatnya berdiri,
ia menatap gadis di hadapannya, ia tahu bahwa Maria telah dikuasai oleh
nafsunya, mulailah Om Mamat membelai tubuh Maria yang mengenakan gaun
terusan tanpa lengan yang begitu minim.

Tangannya meraba mulai dari bagian paha yang tak tertutup oleh terusan
yang pendek itu, terus merambat menuju pada sepasang paha yang mulus itu
sambil terus berdiri hingga pakaian Maria tertarik mengikuti gerakan
berdiri Om Mamat, hingga Om Mamat berhasil melepaskan pakaian itu dari
tubuh yang kini hanya mengenakan beha dan celana dalam. Kembali Om Mamat
membelai tubuh itu dari atas ke bawah sambil bergerak duduk.

Setelah posisinya duduk berhadapan dengan selangkangan Maria yang hanya
mengenakan celana dalam, tangannya bergerak melepas celana dalam itu
hingga terpampanglah gumpalan bulu-bulu halus terhampar menghiasi
sekitar bibir kemaluan yang begitu ranum dan menebarkan aroma yang
menggairahkan hingga membuat darah Om Mamat menggelegar dan nafsunya
mulai menanjak.

Dengan kedua tangannya Om Mamat merengkuh bungkahan pantat Maria yang
padat ke arah wajahnya, lalu dengan rakusnya Om Mamat melumat bibir
kemaluan Maria dengan penuh nafsu. Maria mendesah kenikmatan sambil
membelai rambut Om Mamat yang tengah melumat vaginanya.
“Ooouugh.., Ooomm.., lakukanlah.., Oom.., aa.., aku.., dah ti..daak.., taahhan.., lagi..!”.

Om Mamat hanya tersenyum dan menjawab dengan perlahan, “Baiklah.
Sekarang naiklah ke pangkuanku”, suruh Om Mamat pada Maria. Maria
mengikuti perintah Om Mamat, dengan cepat ia duduk di pangkuan Om Mamat.

Penis Om Mamat yang tegak menghadap ke atas meleset miring diduduki oleh Maria. Om Mamat berkata,

“Bukan begitu caranya, sekarang berdirilah dengan lutut di atas bangku mengangkangi burungku!”, ajar Om Mamat pada Maria.

Kini Maria mengangkangi Om Mamat yang duduk bersandar dengan penis tegak
ke atas mengarah tepat pada bibir kemaluan Maria. Kembali Om Mamat
memberikan instruksi kepada Maria, “Kini genggamlah burungku!”.

Maria menggenggam penis Om Mamat. “Arahkan ke lubang memekmu!”, Kembali
Maria menuruti perintah Om Mamat tanpa berkata apapun. “Turunkan
pantatmu lalu masukkan burungku dalam lubang memekmu perlahan-lahan!”.

Maria mengerjakan semua perintah Om Mamat hingga.., “Sleep..”, Kepala
kemaluan Om Mamat yang besar itu menyelinap di antara dua bibir vagina
Maria yang langsung menjepit kepala penis itu dengan ketat. Maria
mendesah kenikmatan,

“Oough..”. Dipegangnya bahu Om Mamat yang sedang merem-melek menikmati
jepitan sepasang bibir vagina Maria yang kenyal dan sempit. Dengan suara
terputus-putus kenikmatan Om Mamat berkata, “Yaakh.., begitu, sekarang
turunkan pantatmu agar burungku dapat masuk lebih dalam!”, Maria
menghempaskan tubuhnya ke bawah

Dirasakannya betapa penis Om Mamat yang besar dan panjang itu menerobos
ke dalam liang vaginanya yang terdalam, yang belum pernah tersentuh oleh
benda apapun karena penis Om Mamat adalah penis paling besar dan
panjang yang pernah menerobos lubang vaginanya, dan itu memberikan
kenikmatan yang belum pernah dirasakan Maria sebelumnya. Om Mamat
sendiri mengejang menikmati gesekan seret dari dinding vagina Maria yang
seakan mengurut penisnya dengan kenikmatan yang luar biasa.

Dirangkulnya tubuh Maria untuk melampiaskan getaran kenikmatan yang
dirasakannya. Sejenak keduanya terdiam tidak melakukan gerakan apapun
karena tenggelam dalam kenikmatan yang tiada taranya. Hanya
getaran-getaran kereta api yang bergelombang membuat mereka melayang
dalam arus kenikmatan bercinta.

Akhirnya kesunyian itu dipecahkan oleh suara Om Mamat yang lebih mirip desahan.

“Sekarang bergeraklah hurun naik agar lebih nikmat sayang!”.

“Eest.., baikh.., Om..”, jawab Maria sambil mulai mengangkat tubuhnya,
terasa olehnya betap hangatnya gesekan kulit penis Om Mamat di dalam
liang vaginanya, lalu dihempaskan lagi tubuhnya ke bawah membenamkan
penis Om Mamat kembali dalam pelukan dinding kemaluannya yang berdenyut
kenikmatan.

Hal itu dilakukan Maria berulang kali seiring dengan getaran kereta yang
menambah nikmatnya persetubuhan mereka, kian lama gerakan Maria semakin
gencar menurun-naikan pantatnya. Sedang Om Mamat tidak hanya diam saja,
ia mengiringi gerakan pantat Maria dengan menaikkan pantatnya bila
Maria menghentakkan pantatnya membenamkan penis Om Mamat. Maria
mendesah-desah menikmati permainanan yang hebat itu. Bacaan sex top: Cerita Dewasa Threesome Nikmat Naksir Teman SMP

“Eeeghh.., niikhmat.., sekhali.., Om..”

“Yaakh.., memang.., nikhmat memekmu ini Mar.., oouggh..”.

“Ooomm.., hisaplah susuku ini agar lebikh nikhmat Om..” pinta Maria,
sambil menarik kepala Om Mamat ke arah dadanya yang dibusungkan
menantang itu. Segera saja Om Mamat melepaskan satu-satunya pakaian yang
masih melekat di tubuh Maria, menggelembunglah payudara yang kenyal
menegang setelah Om Mamat menarik lepas penutup benda indah itu.

Mulailah Om Mamat menjilati puting susu Maria yang merah menantang itu,
tidak hanya sampai di situ saja, Om Mamat menghisap rakus buah dada yang
benar-benar ranum itu kiri dan kanan sedangkan kedua tangannya meremas
buah pantat Maria yang padat berisi dan membantunya turun naik
menenggelamkan penisnya. Semakin lama gerakan keduanya samakin menggila
desahan-desahan tak henti-hentinya keluar dari sepasang insan itu.

“Ooogh.., oough.., akhh.., ahh..”, desahan Maria menikmati tarian penis
Om Mamat yang perkasa di dalam lubang vaginanya yang semakin licin dan
basah. Cukup lama mereka berpacu dalam mengejar kenikmatan sehingga,
“Eeest.., Ooough.., lebihh.., ceepat lagi.., Sayaang.., aku maau
keeluaar..!”.

“Yaakhh.., aku.., juga..,. sudahh.., tidak.., taahaan.., laagi.., Ooomm”.

Hentakan pantat mereka semakin cepat terbawa nafsu yang seakan
meledakkan dada mereka hingga, “Ooough.., Akuu.., keluaar.., sayang..”

“Akhuu.., aakhh..”.

“Creet.., creet.., creett..”, Keduanya saling berangkulan dengan erat
menikmati puncak permainan mereka yang sungguh hebat. Maria berdiri
mengeluarkan penis yang besar itu dari lubang vaginanya lalu berpakaian
dan kembali lunglai di bangkunya menyusul Ria yang sudah terlelap.

Sedang Om Mamat menatap kedua gadis bergantian lalu dia berpakaian dan
kembali memejamkan matanya. Semuanya sunyi dan tenang. Tak ada lagi
erangan-erangan atau desahan, mereka tertidur dengan penuh kepuasan,
tanpa memikirkan apa yang menanti mereka di Jakarta nanti.
Situs dewasa sex online terlengkap, novel sex terupdate, novel sex
dewasa, novel xxx terbaru, novel cerita hot, novel cerita bokep, novel
cerita porno, novel mesum, novel abg ml, novel tante selingkuh, novel
janda hypersex, novel sex terpanas, novel perawan suka bugil.

Cerita
Sex / Cerita Dewasa / Cerita Mesum / Cerita Panas / Cerita Porno /
Cerita Bokep / Cerita Sex Tante / Cerita Sex ABG / Cerita Sex Janda /
Cerita Sex Perawan / Cerita HOT / Kisah Sex / Sex Bergambar / Foto Seks

Video Bokep
Gravatar Image
Novelseks.com Merupakan media hiburan bagi orang dewasa berumur 20 tahun keatas, bagi yang belum mencapai batas umur saya mohon kesadarannya untuk segera meninggalkan blog ini. Bagi yang cukup umur silahkan menikmati sajian cerita cerita panas igo nakal terbaru 2017 yang telah kami sudur dari berbagai sumber blog lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *