Tuesday , January 24 2017

Cerita Dewasa Tukar Pasangan Meminjami Memek

Cerita Dewasa Tukar Pasangan Meminjami Memek – Cerita ngentot terhot, Sebelumnya kisah sex yang pernah saya publish ialah Cerita Dewasa IGO Hot Bayi Adikku Dalam RahimkuCerita
sex terbaru, novel sex terlengkap, cerita dewasa terupdate, cerita
mesum terbaik, cerita ngentot terpopuler, cerita bokep terselubung,
cerita xxx terhot, cerita ml abg perawan, cerita porno janda binal
| Terlebih dahulu aku akan memperkenalkan diriku, namaku Hasim saat ini
usiaku 29 tahun dan aku baru saja diterima bekerja di sebuah perusahaan
asing di ibu kota, atasan saya namanya Ricko asal dari USA, karena aku
dan atasanku mempunyai hobi yang sama yaitu bermain golf jadi aku dan
atasanku sangat akarb.

Cerita Sex Tukar Pasangan Terbaru 2016 Meminjami Memek
Cerita, Dewasa, Tukar, Pasangan, Meminjami, Memek, cerita sex Bertukar pasangan, cerita Bertukar pasangan terbaru, cerita Bertukar pasangan ngentot, kumpulan cerita Bertukar pasangan ngentot, cerita hot ngentot, cerita nyata Bertukar pasangan ngentot, koleksi cerita Bertukar pasangan ngentot, kumpulan cerita ngentot terbaru, cerita sex terbaru, cerita dewasa, cerita mesum terbaru, cerita sex mesum, cerita mesum 18, cerita mesum baru, cerita mesum terkini, cerita mesum 17, cerita mesum terhot, koleksi cerita mesum, mesum cerita, kumpulan cerita mesum bergambar, galeri cerita mesum, cerita mesum paling panas, cerita mesum dan fotonya

Novel Seks – Perusahaan tempat kami bekerja adalah suatu perusahaan yang bergerak
dalam bidang advertising. Menurut cerita-cerita teman-teman istri Ricko,
yang berasal dari Amerika juga, sangat cantik dan badannya sangat
seksi, seperti bintang film Hollywood.

Kumpulan cerita dewasa, cerita dewasa 2016, cerita dewasa terbaru, cerita dewasa igo, cerita dewasa igo terbaru, cerita dewasa igo bugil, cerita dewasa igo 2016

Aku sendiri belum pernah bertemu secara langsung dengan istri Ricko,
hanya melihat fotonya yang terletak di meja kerja Ricko. Suatu hari saya
memasang foto saya berdua denga Filia istri saya, yang berasal dari
Bandung dan berumur 26 tahun, di meja kerja saya.

Pada waktu Ricko melihat foto itu, secara spontan dia memuji kecantikan
Filia dan sejak saat itu pula saya mengamati kalau Ricko sering melirik
ke foto itu, apabila kebetulan dia datang ke ruang kerja saya.

Koleksi Cerita Panas Terbaru 2017, Suatu hari Ricko mengundang saya untuk makan malam di rumahnya, katanya
untuk membahas suatu proyek, sekaligus untuk lebih mengenal istri
masing-masing.

“Dik, nanti malam datang ke rumah ya, ajak istrimu Filia juga, sekalian makan malam”.

“Lho, ada acara apa boss?”, kataku sok akrab.

“Ada proyek yg harus diomongin, sekalian biar istri saling kenal gitu”.

“Okelah!”, kataku.

Sesampainya di rumah, undangan itu aku sampaikan ke Filia. Pada mulanya
Filia agak segan juga untuk pergi, karena menurutnya nanti agak susah
untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan mereka. Akan tetapi
setelah kuyakinkan bahwa Ricko dan Istrinya sangat lancar berbahasa
Indonesia, akhirnya Filia mau juga pergi.

“Ada apa sih Mas, kok mereka ngadain dinner segala?”.

“Tau, katanya sih, ada proyek apa.., yang mau didiskusikan”.

“Ooo.., gitu ya”, sambil tersenyum. Melihat dia tersenyum aku segera
mencubit pipinya dengan gemas. Kalau melihat Filia, selalu gairahku
timbul, soalnya dia itu seksi sekali. Rambutnya terurai panjang, dia
selalu senam so.., punya tubuh ideal, dan ukurannya itu 34B yang padat
kencang.

Pukul 19.30 kami sudah berada di apartemen Ricko yang terletak di daerah
Jl. Gatot Subroto. Aku mengenakan kemeja batik, sementara Filia memakai
stelan rok dan kemeja sutera. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa hiasan
apapun.

Sesampai di Apertemen no.1009, aku segera menekan bel yang berada di
depan pintu. Begitu pintu terbuka, terlihat seorang wanita bule berumur
kira-kiar 32 tahun, yang sangat cantik, dengan tinggi sedang dan
berbadan langsing, yang dengan suara medok menegur kami.

“Oh Hasim dan Filia yah?, silakan.., masuk.., silakan duduk ya!, saya Lillian istrinya Ricko”.

Ternyata Lillian badannya sangat bagus, tinggi langsing, rambut panjang,
dan lebih manis dibandingkan dengan fotonya di ruang kerja Ricko.
Dengan agak tergagap, aku menyapanya.

“Hallo Mam.., kenalin, ini Filia istriku”.

Setelah Filia berkenalan dengan Lillian, ia diajak untuk masuk ke dapur
untuk menyiapkan makan malam, sementara Ricko mengajakku ke teras balkon
apartemennya.

“Gini lho Dik.., bulan depan akan ada proyek untuk mengerjakan iklan..,
ini.., ini.., dsb. Berani nggak kamu ngerjakan iklan itu”.

“Kenapa nggak, rasanya perlengkapan kita cukup lengkap, tim kerja di
kantor semua tenaga terlatih, ngeliat waktunya juga cukup. Berani!”.

Aku excited sekali, baru kali itu diserahi tugas untuk mengkordinir pembuatan iklan skala besar.

Senyum Ricko segera mengembang, kemudian ia berdiri merapat ke sebelahku.

“Eh Dik.., gimana Lillian menurut penilaian kamu?”, sambil bisik-bisik.

“Ya.., amat cantik, seperti bintang film”, kataku dengan polos.

“Seksi nggak?”.

“Lha.., ya.., jelas dong”.

“Umpama.., ini umpama saja loo.., kalo nanti aku pinjem istrimu dan aku pinjemin Lillian untuk kamu gimana?”.

Mendenger permintaan seperti itu terus terang aku sangat kaget dan
bingung, perasanku sangat shock dan tergoncang. Rasanya kok aneh sekali
gitu. Sambil masih tersenyum-senyum, Ricko melanjutkan,

“Nggak ada paksaan kok, aku jamin Filia dan Lillian pasti suka, soalnya
nanti.., udah deh pokoknya kalau kau setuju.., selanjutnya serahkan pada
saya.., aman kok!”.

Membayangkan tampang dan badan Lillian aku menjadi terangsang juga.
Pikirku kapan lagi aku bisa menunggangi kuda putih? Paling-paling selama
ini hanya bisa membayangkan saja pada saat menonton blue film.

Tapi dilain pihak kalau membayangkan Filia dikerjain si bule ini, yang
pasti punya senjata yang besar, rasanya kok tidak tega juga. Tapi
sebelum saya bisa menentukan sikap, Ricko telah melanjutkan dengan
pertanyaan lagi, “Ngomong-ngomong Filia sukanya kalo making love
style-nya gimana sih?”.

Tanpa aku sempat berpikir lagi, mulutku sudah ngomong duluan, “Dia tidak
suka style yang aneh-aneh, maklum saja gadis pingitan dan pemalu, tapi
kalau vaginanya dijilatin, maka dia akan sangat terangsang!”.

“Wow.., aku justru pengin sekali mencium dan menjilati bagian vagina,
ada bau khas wanita terpancar dari situ.., itu membuat saya sangat
terangsang!”, kata Ricko.

“Kalau Lillian sangat suka main di atas, doggy style dan yang jelas suka blow-job” lanjutnya.

Mendengar itu aku menjadi bernafsu juga, belum-belum sudah terasa ngilu
di bagian bawahku membayangkan senjataku diisap mulut mungil Lillian
itu.

Kemudian lanjut Ricko meyakinkanku, “Oke deh.., enjoy aja nanti, biar
aku yang atur. Ngomong-ngomong my wife udah tau rencana ini kok, dia itu
orangnya selalu terbuka dalam soal seks.., jadi setuju aja”.

“Nanti minuman Filia aku kasih bubuk penghangat sedikit, biar dia agak
lebih berani.., Oke.., yaa!”, saya agak terkejut juga, apakah Ricko akan
memberikan obat perangsang dan memperkosa Rina? Wah kalau begitu tidak
rela aku.

Aku setuju asal Rina mendapat kepuasan juga. Melihat mimik mukaku yang
ragu-ragu itu, Ricko cepat-cepat menambahkan, “Bukan obat bius atau
ineks kok. Cuma pembangkit gairah aja”, kemudian dia menjelaskan
selanjutnya, “Oke, nanti kamu duduk di sebelah Lillian ya, Filia di
sampingku”.

Selanjutnya acara makan malam berjalan lancar. Juga rencana Ricko.
Setelah makan malam selesai kelihatannya bubuk itu mulai bereaksi. Rina
kelihatan agak gelisah, pada dahinya timbul keringat halus, duduknya
kelihatan tidak tenang, soalnya kalau nafsunya lagi besar, dia agak
gelisah dan keringatnya lebih banyak keluar.

Melihat tanda-tanda itu, Ricko mengedipkan matanya pada saya dan berkata
pada Filia, “Nin.., mari duduk di depan TV saja, lebih dingin di
sana!”, dan tampa menunggu jawaban Filia, Ricko segera berdiri, menarik
kursi Filia dan menggandengnya ke depan TV 29 inchi yang terletak di
ruang tengah.

Aku ingin mengikuti mereka tapi Lillian segera memegang tanganku. “Dik,
diliat aja dulu dari sini, ntar kita juga akan bergabung dengan mereka
kok”. Memang dari ruang makan kami dapat dengan jelas menyaksikan tangan
Ricko mulai bergerilya di pundak dan punggung Filia, memijit-mijit dan
mengusap-usap halus.

Sementara Filia kelihatan makin gelisah saja, badannya terlihat sedikit
menggeliat dan dari mulutnya terdengar desahan setiap kali tangan Ricko
yang berdiri di belakangnya menyentuh dan memijit pundaknya.

Lillian kemudian menarikku ke kursi panjang yang terletak di ruang
makan. Dari kursi panjang tersebut, dapat terlihat langsung seluruh
aktivitas yang terjadi di ruang tengah, kami kemudian duduk di kursi
panjang tersebut.

Terlihat tindakan Ricko semakin berani, dari belakang tangannya dengan
trampil mulai melepaskan kancing kemeja batik Filia hingga kancing
terakhir. BH Filia segera menyembul, menyembunyikan dua bukit mungil
kebanggaanku dibalik balutannya. Kelihatan mata Filia terpejam, badannya
terlihat lunglai lemas, aku menduga-duga,

“Apakah Filia telah diberi obat tidur, atau obat perangsang oleh Ricko?,
atau apakah Filia pingsan atau sedang terbuai menikmati permainan
tangan Ricko?”. Filia tampaknya pasrah seakan-akan tidak menyadari
keadaan sekitarnya.

Timbul juga perasaan cemburu berbarengan dengan gairah menerpaku,
melihat Filia seakan-akan menyambut setiap belaian dan usapan Ricko
dikulitnya dan ciuman nafsu Rickopun disambutnya dengan gairah.

Melihat apa yang tengah diperbuat oleh si bule terhadap istriku, maka
karena merasa kepalang tanggung, aku juga tidak mau rugi, segera
kualihkan perhatianku pada istri Ricko yang sedang duduk di sampingku.

Niat untuk merasakan kuda putih segera akan terwujud dan tanganku pun
segera menyelusup ke dalam rok Lillian, terasa bukit kemaluannya sudah
basah, mungkin juga telah muncul gairahnya melihat suaminya sedang
mengerjai wanita mungil.

Dengan perlahan jemariku mulai membuka pintu masuk ke lorong
kewanitaannya, dengan lembut jari tengahku menekan clitorisnya. Desahan
lembut keluar dari mulut Lillian yang mungil itu, “aahh.., aaghh..,
aagghh”, tubuhnya mengejang, sementara tangannya meremas-remas
payudaranya sendiri.

Sementara itu di ruang sebelah, Ricko telah meningkatkan aksinya
terhadap Filia, terlihat Filia telah dibuat polos oleh Ricko dan
terbaring lunglai di sofa. Badan Filia yang ramping mulus dengan buah
dadanya tidak terlalu besar, tetapi padat berisi, perutnya yang rata dan
kedua bongkahan pantatnya yang terlihat mulus menggairahkan serta
gundukan kecil yang membukit yang ditutupi oleh rambut-rambut halus yang
terletak diantara kedua paha atasnya terbuka dengan jelas seakan-akan
siap menerima serangan-serangan selanjutnya dari Ricko.

Kemudian Ricko menarik Filia berdiri, dengan Ricko tetap di belakangnya,
kedua tangan Ricko menjelajahi seluruh lekuk dan ngarai istriku itu.
Aku sempat melihat ekspresi wajah Filia, yang dengan matanya yang
setengah terpejam dan dahinya agak berkerut seakan-akan sedang menahan
suatu kenyerian yang melanda seluruh tubuhnya dengan mulutnya yang
mungil setengah terbuka

Menunjukan Filia menikmati benar permainan dari Ricko terhadap badannya
itu, apalagi ketika jemari Ricko berada di semak-semak kewanitaannya,
sementara tangan lain Ricko meremas-remas puting susunya, terlihat
seluruh badan Filia yang bersandar lemas pada badan Ricko, bergetar
dengan hebat.

Saat itu juga tangan Lillian telah membuka zipper celana panjangku, dan
bagaikan orang kelaparan terus berusaha melepas celanaku tersebut. Untuk
memudahkan aksinya aku berdiri di hadapannya, dengan melepaskan bajuku
sendiri. Setelah Lillian selesai dengan celanaku, gilirannya dia
kutelanjangi.

Wow.., kulit badannya mulus seputih susu, payudaranya padat dan kencang,
dengan putingnya yang berwarna coklat muda telah mengeras, yang
terlihat telah mencuat ke depan dengan kencang. Aku menyadari, kalau
diadu besarnya senjataku dengan Ricko, tentu aku kalah jauh dan kalau
aku langsung main tusuk saja, tentu Lillian tidak akan merasa puas

Jadi cara permainanku harus memakai teknik yang lain dari lain. Maka
sebagai permulaan kutelusuri dadanya, turun ke perutnya yang rata hingga
tiba di lembah diantara kedua pahanya mulus dan mulai menjilat-jilat
bibir kemaluannya dengan lidahku.

Kududukkan Lillian kembali di sofa, dengan kedua kakinya berada di
pundakku. Sasaranku adalah vaginanya yang telah basah. Lidahku segera
menari-nari di permukaan dan di dalam lubang vaginanya. Menjilati
clitorisnya dan mempermainkannya sesekali. Kontan saja Lillian
berteriak-teriak keenakan dengan suara keras,

” Ooohh.., oohh.., sshh.., sshh”. Sementara tangannya menekan mukaku ke
vaginanya dan tubuhnya menggeliat-geliat. Tanganku terus melakukan
gerakan meremas-remas di sekitar payudaranya. Pada saat bersamaan suara
Filia terdengar di telingaku saat ia mendesah-desah, “Oooh.., aagghh!”,
diikuti dengan suara seperti orang berdecak-decak.

Tak tahu apa yang diperbuat Ricko pada istriku, sehingga dia bisa
berdesah seperti itu. Filia sekarang telah telentang di atas sofa,
dengan kedua kakinya terjulur ke lantai dan Ricko sedang berjongkok
diantara kedua paha Filia yang sudah terpentang dengan lebar

Kepalanya terbenam diantara kedua paha Filia yang mulus. Bisa
kubayangkan mulut dan lidah Ricko sedang mengaduk-aduk kemaluan Filia
yang mungil itu. Terlihat badan Filia menggeliat-geliat dan kedua
tangannya mencengkeram rambut Ricko dengan kuat.

Aku sendiri makin sibuk menjilati vagina Lillian yang badannya terus
menggerinjal-gerinjal keenakan dan dari mulutnya terdengar erangan,
“Ahh.., yaa.., yaa.., jilatin.., Ummhh”. Desahan-desahan nafsu yang
semakin menegangkan otot-otot penisku.

“Aahh.., Dik.., akuu.., aakkuu.., oohh.., hh!”, dengan sekali hentakan
keras pinggul Lillian menekan ke mukaku, kedua pahanya menjepit kepalaku
dengan kuat dan tubuhnya menegang terguncang-guncang dengan hebat dan
diikuti dengan cairan hangat yang merembes di dinding vaginanya pun
semakin deras, saat ia mencapai organsme.

Tubuhnya yang telah basah oleh keringat tergolek lemas penuh kepuasan di
sofa. Tangannya mengusap-usap lembut dadaku yang juga penuh keringat,
dengan tatapan yang sayu mengundangku untuk bertindak lebih jauh.

Ketika aku menengok ke arah Ricko dan istriku, rupanya mereka telah
berganti posisi. Filia kini telentang di sofa dengan kedua kakinya
terlihat menjulur di lantai dan pantatnya terletak pada tepi sofa,
punggung Filia bersandar pada sandaran sofa, sehingga dia bisa melihat
dengan jelas bagian bawah tubuhnya yang sedang menjadi sasaran tembak
Ricko.

Ricko mengambil posisi berjongkok di lantai diantara kedua paha Filia
yang telah terpentang lebar. Aku merasa sangat terkejut juga melihat
senjata Ricko yang terletak diantara kedua pahanya yang berbulu pirang
itu, penisnya terlihat sangat besar kurang lebih panjangnya 20 cm dengan
lingkaran yang kurang lebih 6 cm dan pada bagian kepala penisnya
membulat besar bagaikan topi baja tentara saja.

Terlihat Ricko memegang penis raksasanya itu, serta di usap-usapkannya
di belahan bibir kemaluan Filia yang sudah sedikit terbuka, terlihat
Filia dengan mata yang terbelalak melihat ke arah senjata Ricko yang
dahsyat itu, sedang menempel pada bibir vaginanya.

Kedua tangan Filia kelihatan mencoba menahan badan Ricko dan badan Filia
terlihat agak melengkung, pantatnya dicoba ditarik ke atas untuk
mengurangi tekanan penis raksasa Ricko pada bibir vaginanya, akan tetapi
dengan tangan kanannya tetap menahan pantat Filia dan tangan kirinya
tetap menuntun penisnya agar tetap berada pada bibir kemaluan Filia,
sambil mencium telinga kiri Filia, terdengar Ricko berkata perlahan,
“Niinn.., maaf yaa.., saya mau masukkan sekarang.., boleh?”, terlihat
kepala Nini hanya menggeleng-geleng kekiri kekanan saja, entah apa yang
mau dikatakannya, dengan pandangannya yang sayu menatap ke arah
kemaluannya yang sedang didesak oleh penis raksasa Ricko itu dan
mulutnya terkatup rapat seakan-akan menahan kengiluan.

Ricko, tanpa menunggu lebih lama lagi, segera menekan penisnya ke dalam
lubang vagina Filia yang telah basah itu, biarpun kedua tangan Filia
tetap mencoba menahan tekanan badan Ricko. Mungkin, entah karena tusukan
penis Ricko yang terlalu cepat atau karena ukuran penisnya yang over
size, langsung saja Filia berteriak kecil,

“Aduuh.., pelan-pelan.., sakit nih”, terdengar keluhan dari mulutnya
dengan wajah yang agak meringis, mungkin menahan rasa kesakitan. Kedua
kaki Filia yang mengangkang itu terlihat menggelinjang.

Kepala penis Ricko yang besar itu telah terbenam sebagian di dalam
kemaluan Filia, kedua bibir kemaluannya menjepit dengan erat kepala
penis Ricko, sehingga belahan kemaluan Filia terlihat terkuak membungkus
dengan ketat kepala penis Ricko itu. Kedua bibir kemaluan Filia
tertekan masuk begitu juga clitoris Filia turut tertarik ke dalam akibat
besarnya kemaluan Ricko.

Ricko menghentikan tekanan penisnya, sambil mulutnya mengguman, “Maaf.., Nin.., saya sudah menyakitimu.., maaf yaa.., Niin!”.

“aagghh.., jangan teerrlalu diipaksakan.., yaahh.., saayaa meerasa..,
aakan.., terbelah.., niih.., sakiitt.., jangan.., diiterusiinn”.

Filia mencoba menjawab dengan badannya terus menggeliat-geliat, sambil merangkulkan kedua tangannya di pungung Ricko.

“Niinn.., saya mau masukkan lagi.., yaa.., dan tolong katakan yaa..,
kalau Filia masih merasa sakit”, sahut Ricko dan tanpa menunggu jawaban
Filia, segera saja Ricko melanjutkan penyelaman penisnya ke dalam lubang
vagina Filia yang tertunda itu, tetapi sekarang dilakukannya dengan
lebih pelan pelan.

Ketika kepala penisnya telah terbenam seluruhnya di dalam lubang
kemaluan Filia, terlihat muka Filia meringis, tetapi sekarang tidak
terdengar keluhan dari mulutnya lagi hanya kedua bibirnya terkatup erat
dengan bibir bawahnya terlihat menggetar.

Terdengar Ricko bertanya lagi, “Niinn.., sakit.., yaa?”, Filia hanya
menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil kedua tangannya meremas bahu
Ricko dan Ricko segera kembali menekan penisnya lebih dalam, masuk ke
dalam lubang kemaluan Filia.

Secara pelahan-lahan tapi pasti, penis raksasa itu menguak dan menerobos
masuk ke dalam sarangnya. Ketika penis Ricko telah terbenam hampir
setengah di dalam lubang vagina Filia, terlihat Filia telah pasrah saja
dan sekarang kedua tangannya tidak lagi menolak badan Ricko, akan tetapi
sekarang kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada tepi sofa.

Ricko menekan lebih dalam lagi, kembali terlihat wajah Filia meringis
menahan sakit dan nikmat, kedua pahanya terlihat menggeletar, tetapi
karena Filia tidak mengeluh maka Ricko meneruskan saja tusukan penisnya
dan tiba-tiba saja, “Blees”, Ricko menekan seluruh berat badannya dan
pantatnya menghentak dengan kuat ke depan memepetin pinggul Filia
rapat-rapat pada sofa.

Pada saat yang bersamaan terdengar keluhan panjang dari mulut Filia,
“Aduuh”, sambil kedua tangannya mencengkeram tepi sofa dengan kuat dan
badannya melengkung ke depan serta kedua kakinya terangkat ke atas
menahan tekanan penis Ricko di dalam kemaluannya.

Ricko mendiamkan penisnya terbenam di dalam lubang vagina Filia sejenak,
agar tidak menambah sakit Filia sambil bertanya lagi, “Niinn..,
sakit.., yaa? Tahan dikit yaa, sebentar lagi akan terasa nikmat!”,

Filia dengan mata terpejam hanya menggelengkan kepalanya sedikit seraya
mendesah panjang, “aagghh.., kit!”, lalu Ricko mencium wajah Filia dan
melumat bibirnya dengan ganas. Terlihat pantat Ricko bergerak dengan
cepat naik turun, sambil badannya mendekap tubuh mungil Filia dalam
pelukannya.

Tak selang lama kemudian terlihat badan Filia bergetar dengan hebat dari
mulutnya terdengar keluhan panjang, “Aaduuh.., oohh.., sshh.., sshh”,
kedua kaki Filia bergetar dengan hebat, melingkar dengan ketat pada
pantat Ricko, Filia mengalami orgasme yang hebat dan berkepanjangan.
Selang sesaat badan Filia terkulai lemas dengan kedua kakinya tetap
melingkar pada pantat Ricko yang masih tetap berayun-ayun itu.

aah, suatu pemandangan yang sangat erotis sekali, suatu pertarungan yang
diam-diam yang diikuti oleh penaklukan disatu pihak dan penyerahan
total dilain pihak.

“Dik.., ayo aku mau kamu”, suara Lillian penuh gairah di telingaku.
Kuletakkan kaki Lillian sama dengan posisi tadi, hanya saja kini
senjataku yang akan masuk ke vaginanya. Duh, rasanya kemaluan Lillian
masih rapet saja, aku merasakan adanya jepitan dari dinding vagina
Lillian pada saat rudalku hendak menerobos masuk.

“Lill.., kok masih rapet yahh”. Maka dengan sedikit tenaga kuserudukkan
saja rudalku itu menerobos liang vaginanya. “Aagghh”, mata Lillian
terpejam, sementara bibirnya digigit. Tapi ekspresi yang terpancar
adalah ekspresi kepuasan.

Aku mulai mendorong-dorongkan penisku dengan gerakan keluar masuk di
liang vaginanya. Diiringi erangan dan desahan Lillian setiap aku
menyodokkan penisku, melihat itu aku semakin bersemangat dan makin
kupercepat gerakan itu. Bisa kurasakan bahwa liang kemaluannya semakin
licin oleh pelumas vaginanya.

“Ahh.., ahh”, Lillian makin keras teriakannya.

“Ayo Dik.., terus”.

“Enakk.., eemm.., mm!”.

Tubuhnya sekali lagi mengejang, diiringi leguhan panjang, “Uuhh..hh..”
“Lill.., boleh di dalam.., yaah”, aku perlu bertanya pada dia, mengingat
aku bisa saja sewaktu-waktu keluar.

“mm..”.

Kaki Lillian kemudian menjepit pinggangku dengan erat, sementara aku
semakin mempercepat gerakan sodokan penisku di dalam lubang kemaluannya.
Lillian juga menikmati remasan tanganku di buah dadanya.

“Nih.., Lill.., terima yaa”.

Dengan satu sodokan keras, aku dorong pinggulku kuat-kuat, sambil kedua
tanganku memeluk badan Lillian dengan erat dan penisku terbenam
seluruhnya di dalam lubang kemaluannya dan saat bersamaan cairan maniku
menyembur keluar dengan deras di dalam lubang vagina Lillian.

Badanku tehentak-hentak merasakan kenikmatan orgasme di atas badan
Lillian, sementara cairan hangat maniku masih terus memenuhi rongga
vagina Lillian, tiba-tiba badan Lillian bergetar dengan hebat dan kedua
pahanya menjepit dengan kuat pinggul saya diikuti keluhan panjang keluar
dari mulutnya, “..aagghh.., hhm!”, saat bersamaan Lillian juga
mengalami orgasme dengan dahsyat.

Setelah melewati suatu fase kenikmatan yang hebat, kami berdua terkulai
lemas dengan masih berpelukan erat satu sama lain. Dari pancaran sinar
mata kami, terlihat suatu perasaan nikmat dan puas akan apa yang baru
kami alami.

Aku kemudian mencabut senjataku yang masih berlepotan dan mendekatkannya
ke muka Lillian. Dengan isyarat agar ia menjilati senjataku hingga
bersih. Ia pun menurut. Lidahnya yang hangat menjilati penisku hingga
bersih. “Ahh..”. Dengan kepuasan yang tiada taranya aku merebahkan diri
di samping Lillian.

Kini kami menyaksikan bagaimana Ricko sedang mempermainkan Filia, yang
terlihat tubuh mungilnya telah lemas tak berdaya dikerjain Ricko, yang
terlihat masih tetap perkasa saja. Gerakan Ricko terlihat mulai sangat
kasar, hilang sudah lemah lembut yang pernah dia perlihatkan. Mulai saat
ini Ricko mengerjai Filia dengan sangat brutal dan kasar.

Filia benar-benar dipergunakan sebagai objek seks-nya. Saya sangat takut
kalau-kalau Ricko menyakiti Filia, tetapi dilihat dari ekspressi muka
dan gerakan Filia ternyata tidak terlihat tanda-tanda penolakan dari
pihak Filia atas apa yang dilakukan oleh Ricko terhadapnya.

Ricko mencabut penisnya, kemudian dia duduk di sofa dan menarik Filia
berjongkok diantara kedua kakinya, kepala Filia ditariknya ke arah
perutnya dan memasukkan penisnya ke dalam mulut Filia sambil memegang
belakang kepala Filia, dia membantu kepala Filia bergerak ke depan ke
belakang, sehingga penisnya terkocok di dalam mulut Filia. Kelihatan
Filia telah lemas dan pasrah, sehingga hanya bisa menuruti apa yang
diingini oleh Ricko, hal ini dilakukan Ricko kurang lebih 5 menit
lamanya.

Ricko kemudian berdiri dan mengangkat Filia, sambil berdiri Ricko
memeluk badan Filia erat-erat. Kelihatan tubuh Filia terkulai lemas
dalam pelukan Ricko yang ketat itu. Tubuh Filia digendong sambil kedua
kaki Filia melingkar pada perut Ricko dan langsung Ricko memasukkan
penisnya ke dalam kemaluan Filia.

Ini dilakukannya sambil berdiri. Badan Filia terlihat tersentak ke atas
ketika penis raksasa Ricko menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya
dari mulutnya terdengar keluhan, “aagghh!”, Filia terlihat seperti anak
kecil dalam gendongan Ricko. Kaki Filia terlihat merangkul pinggang
Ricko, sedangkan berat badannya disanggah oleh penis Ricko.

Ricko berusaha memompa sambil berdiri dan sekaligus mencium Filia.
Pantat Filia terlihat merekah dan tiba-tiba Ricko memasukkan jarinya ke
lubang pantat Filia. “Ooohh!”. Mendapat serangan yang demikian serunya
dari Ricko, badan Filia terlihat menggeliat-geliat dalam gendongan
Ricko. Suatu pemandangan yang sangat seksi.

Ketika Ricko merasa capai, Filia diturunkan dan Ricko duduk pada sofa.
Filia diangkat dan didudukan pada pangkuannya dengan kedua kaki Filia
terkangkang di samping paha Ricko dan Ricko memasukkan penisnya ke dalam
lubang kemaluan Filia dari bawah.

Dari ruang sebelah saya bisa melihat penis raksasa Ricko memaksa masuk
ke dalam lubang kemaluan Filia yang kecil dan ketat itu. Vaginanya
menjadi sangat lebar dan penis Ricko menyentuh paha Filia. Kedua tangan
Ricko memegang pinggang Filia dan membantu Filia memompa penis Ricko
secara teratur, setiap kali penis Ricko masuk, terlihat vaginanya ikut
masuk ke dalam dan cairan putih terbentuk di pinggir bibir vaginanya.
Ketika penisnya keluar, terlihat vaginanya mengembang dan menjepit penis
Ricko. Mereka melakukan posisi ini cukup lama.

Kemudian Ricko mendorong Filia tertelungkup pada sofa dengan pantat
Filia agak menungging ke atas dan kedua lututnya bertumpu di lantai.
Ricko akan bermain doggy style. Ini sebenarnya adalah posisi yang paling
disukai oleh Filia.

Dari belakang pantat Filia, Ricko menempatkan penisnya diantara belahan
pantat Filia dan mendorong penisnya masuk ke dalam lubang vagina Filia
dari belakang dengan sangat keras dan dalam, semua penisnya amblas ke
dalam vagina Filia.

Jari jempol tangan kiri Ricko dimasukkan ke dalam lubang pantat. Filia
setengah berteriak, “aagghh!”, badannya meliuk-liuk mendapat serangan
Ricko yang dahsyat itu. Badan Filia dicoba ditarik ke depan, tapi Ricko
tidak mau melepaskan, penisnya tetap bersarang dalam lubang kemaluan
Filia dan mengikuti arah badan Filia bergerak.

Filia benar-benar dalam keadaan yang sangat nikmat, desahan sudah
berubah menjadi erangan dan erangan sudah berubah menjadi teriakan,
“Ooohhmm.., aaduhh!”. Ricko mencapai payudara Filia dan mulai
meremas-remasnya.

Tak lama kemudian badan Filia bergetar lagi, kedua tangannya
mencengkeram dengan kuat pada sofa, dari mulutnya terdengar, “Aahh..,
aahh.., sshh.., sshh!”. Filia mencapai orgasme lagi, saat bersamaan
Ricko mendorong habis pantatnya sehingga pinggulnya menempel ketat pada
bongkahan pantat Filia, penisnya terbenam seluruhnya ke dalam kemaluan
Filia dari belakang.

Sementara badan Filia bergetar-getar dalam orgasmenya, Ricko sambil
tetap menekan rapat-rapat penisnya ke dalam lubang kemaluan Filia,
pinggulnya membuat gerakan-gerakan memutar sehingga penisnya yang berada
di dalam lubang vagina Filia ikut berputar-putar mengebor liang vagina
Filia sampai ke sudut-sudutnya.

Setelah badan Filia agak tenang, Ricko mencabut penisnya dan menjilat
vagina Filia dari belakang. Vagina Filia dibersihkan oleh lidah Ricko.
Kemudian badan Filia dibalikkannya dan direbahkan di sofa. Ricko
memasukkan penisnya dari atas, sekarang tangan Filia ikut aktif membantu
memasukkan penis Ricko ke vaginanya.

Kaki Filia diangkat dan dilingkarkan ke pinggang Ricko. Ricko terus
menerus memompa vagina Filia. Badan Filia yang langsing tenggelam
ditutupi oleh badan Ricko, yang terlihat oleh saya hanya pantat dan
lubang vagina yang sudah diisi oleh penis Ricko. Bacaan sex top: Cerita Dewasa IGO Hot Bayi Adikku Dalam Rahimku

Kadang-kadang terlihat tangan Filia meraba dan meremas pantat Ricko,
sekali-kali jarinya di masukkan ke dalam lubang pantat Ricko. Gerakan
pantat Ricko bertambah cepat dan ganas memompa dan terlihat penisnya
yang besar itu dengan cepat keluar masuk di dalam lubang vagina Filia,
tiba-tiba,

“Ooohh.., oohh!”, dengan erangan yang cukup keras dan diikuti oleh
badannya yang terlonjak-lonjak, Ricko menekan habis pantatnya
dalam-dalam, mememetin pinggul Filia ke sofa, sehingga penisnya terbenam
habis ke dalam lubang kemaluan Filia, pantat Ricko terkedut-kedut
sementara penisnya menyemprotkan spermanya di dalam vagina Filia

Sambil kedua tangannya mendekap badan Filia erat-erat. Dari mulut Filia
terdengar suara keluhan, “Sssh.., sshh.., hhmm.., hhmm!”, menyambut
semprotan cairan panas di dalam liang vaginanya.

Setelah berpelukan dengan erat selama 5 menit, Ricko kemudian merebahkan
diri di atas badan Filia yang tergeletak di sofa, tanpa melepaskan
penisnya dari vagina Filia. Filia melihat ke saya dan memberikan tanda
bahwa yang satu ini sangat nikmat.

Aku tidak bisa melihat ekspresi Ricko karena terhalang olah tubuh Filia.
Yang jelas dari sela-sela selangkangan Filia mengalir cairan mani.
Kemudian Filiapun seperti kebiasaan kami membersihkan penis Ricko dengan
mulutnya, itu membuat Ricko mengelinjang keenakan. Malam itu kami
pulang menjelang subuh, dengan perasaan yang tidak terlupakan. Kami
masih sempat bermain 2 ronde lagi dengan pasangan itu.
Situs dewasa sex online terlengkap, novel sex terupdate, novel sex
dewasa, novel xxx terbaru, novel cerita hot, novel cerita bokep, novel
cerita porno, novel mesum, novel abg ml, novel tante selingkuh, novel
janda hypersex, novel sex terpanas, novel perawan suka bugil.

Cerita
Sex / Cerita Dewasa / Cerita Mesum / Cerita Panas / Cerita Porno /
Cerita Bokep / Cerita Sex Tante / Cerita Sex ABG / Cerita Sex Janda /
Cerita Sex Perawan / Cerita HOT / Kisah Sex / Sex Bergambar / Foto Seks